Minggu, 13 Oktober 2013

Sedikit membandingkan India dengan Indonesia

(Artikel ini merupakan review singkat dalam sebuah kuliah Historiografi)

India dan Indonesia sebagai sebuah negara post-kolonial agaknya memiliki kepentingan yang sama dalam hal penciptaan narasi sejarah yang memadai, terutama sebagai sejarah nasional. Sebagaimana dikemukakan oleh Dr R. C. Majumdar dalam artikelnya, mengenai komentar Sir Jadunath Sakar -seorang tokoh sejarawan modern india- perihal sejarah nasional. Sir Jadunath Sakar menekankan arti penting sejarah nasional yang tak semata-mata hanya memilah-milah kebaikan sembari menyembunyikan keburukan ataupun seperti yang dikatakan Mohammad Ali dalam Pengantar Sejarah Indonesia sebagai menggosok-gosok kejayaan masa lalu. Menurut Jadunath lebih penting untuk bagaimana menampilkan sejarah secara menyeluruh. Senada halnya dengan Sartono Kartodirdjo yang menekankan arti penting sejarah nasional Indonesia untuk dikaji secara neo-scientific sehingga memaklumi adanya multidisiplin prespektif terkait pendapat Sartono tentang terbentuknya nation-state Indonesia atas dasar interdependency dalam proses historis.
Majumdar juga menceritakan perkembangan mulai dari Konferensi Oriental All-India di Poona pada tahun 1919 yang dipimpin oleh sesepuh sejarawan India, Sir Bhandarkar sampai pada pembentukan Kongres Sejarah India pada tahun 1937. Kongres Sejarah India pada awalnya ditujukan untuk melengkapi Konferensi Oriental dengan membatasi kegiatannya kepada Sejarah Modern, namun pada perkembangannya berhasil mengumpulkan para ahli sejarah generasi perdana untuk fokus dalam mengkaji arah historiografi India lebih baik. Majumdar juga mengemukakan bahwa pembentukan Lembaga Studi Sejarah di India baru didirikan pada tahun 1961, sebagai sebuah pencapaian dari proses yang berawal dari Konferensi Oriental All-India tahun 1919 tersebut. Lembaga Studi Sejarah India sendiri memiliki kegiatan rutin semacam kongres sejarah yang diimbangi dengan agenda rapat pembahasan. Rapat pembahasan sendiri berlangsung hampir dua puluh kali dalam setahun dengan mengundang berbagai intelektual seluruh india. Adapun agenda lain seperti mengeluarkan jurnal triwulanan yang tidak hanya berisi artikel ilmiah, tetapi juga informasi yang beragam tentang penelitian sejarah di Universitas maupun Pusat Penelitian yang berbeda. Selain itu, India juga memiliki badan khusus yang mengupayakan perpustakaan yang baik dan Jasa Biro Riset untuk membantu pekerja riset sejarah baik di India maupun di luar negeri.
Di negara kita, Indonesia, seminar sejarah nasional pertama kali berlangsung tahun 1957 di Yogyakarta, terdapat tokoh-tokoh seperti Sudjatmoko, Mohammad Yamin, Sartono Kartodirdjo, Mohamad Ali dsb mewakili intelektual untuk memufakatkan konsep dan arah serta memperbaiki kekurangan historiografi Indonesia. Pembahasan persoalan landasan filsafat dalam seminar tahun 1957 menuai beberapa kesepakatan penting, sampai di kemudian hari dengan mempersoalkan sejarah lokal dalam seminar sejarah nasional tahun 1970. Agenda penerbitan jurnal agaknya juga berlaku di Indonesia termasuk adanya ANRI sebagai pusat arsip nasional, lembaga arsip di daerah, Perpustakaan Nasional dengan koleksi buku dan arsipnya dsb. Beruntung pula pihak kolonial Belanda di era ini berkemauan untuk membantu perkembangan penulisan sejarah terbukti dengan hadirnya KITLV dan berbagai proyek kerjasama penelitian di perguruan tinggi semisal Universitas Leiden dengan UGM, walaupun hari ini dan ke depan sepertinya generasi muda para pengajar di UGM cenderung lulusan Belanda melulu (Leiden dan Amsterdam). Kondisi ini berbeda dengan kurang lebih tiga windu yang lalu dengan adanya beragam lulusan, waktu Pak Sartono masih gesang yang jelas lulusan Yale, Kuntowijoyo dengan tradisi amerika lulusan Connecticut, Pak Djoko Suryo lulusan Monash, Australia dsb. Hari inipun kalau ada doktoral yang aktif mengajar dan bukan Belanda, paling hanya Pak Bambang yang eksodus SOAS, London, Pak Djoko Suryo lulusan Monash Australia, Pak Sudarsono, Pak Suhartono dan Pak Djoko Soekiman lulusan UGM. Selain Pak Bambang sendiri -yang sudah usia 50-an-, mereka bisa dibilang terlalu sepuh. Semoga saja ke depan ada saja pengajar muda yang lulusan Amerika, Inggris atau bahkan Perancis yang belum pernah ada di jurusan sejarah UGM supaya beragam tradisi keilmuan dan pengalaman. Ini menurut saya yang hanya mahasiswa sejarah biasa.
Selain itu dapat pula dimasukkan sebagai bentuk kemajuan dengan terbentuknya organisasi semisal Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) yang juga sempat menerbitkan jurnal yang memuat tulisan para sejarawan di Indonesia. Sayangnya menurut saya, keberadaan MSI hari ini kurang jelas terbukti dengan terbitan jurnal yang sepertinya mandek, apalagi di tataran mahasiswa sejarah di indonesia dengan adanya Ikahimsi yang lebih tidak jelas lagi rimbanya dengan agenda pergantian pengurus melulu, kalaupun dapat disyukuri beberapa waktu yang lalu berhasil menerbitkan majalah, tetapi lagi-lagi ada saja atmosfer kepentingan yang saya tak bisa menjelaskan sepenuhnya di sini. Entahlah di India sana. Parahnya lagi, antara Indonesia dengan india memiliki kesamaan tak hanya dalam upaya meningkatkan kinerja penulisan sejarah tetapi juga dalam hal penyelewengan sejarah. Untuk India misalnya, Dr R. C. Majumdar menyinggung akan adanya pemanfaatan sejarah oleh pemerintah untuk tujuan integrasi nasional dengan melewatkan fakta-fakta yang dianggap merusak tujuan negara, alhasil pemerintah menseleksi hanya narasi yang sesuai dengan kepentingan integrasi nasional semata tanpa menyadari adanya perbedaan semisal sedikit dicontohkan Majumdar seperti non-Hindu yang terpisah dari kebudayaan Islam dsb. Sebagaimana di Indonesia kita mengenal orde baru yang menghadirkan sejarah nasional Indonesia dengan sengaja menutup-nutupi fakta ataupun realitas yang dianggap tak sesuai dengan haluan pancasila ala orba. Hal mana cenderung menuliskan sejarah dalam satu penilaian dan prespektif atau dimensi, yakni dimensi militeristik, anti-PKI, Soeharto dan orbasentris dsb. Syukurlah hari ini pasca lengsernya orba muncul berbagai perkembangan mutakhir yang positif dengan upaya memperbaiki kesalahan historiografis era orba.
Kasus Indonesia dan India menunjukkan adanya penyelewengan yang cenderung meletakkan sejarah sebagai alat politik melalui klaim negara. Kita berharap semoga historiografi Indonesia mampu mengalami perkembangan pesat yang menuju pada paradigma historiografi yang lepas dari kepentingan pragmatis namun tendensius ilmiah, hal mana sejarah menerangkan dengan beragam dimensi dan prespektif termasuk beragam aktor, tak hanya petani yang memberontak atau bandit yang berjasa. Juga semoga historiografi Indonesia tak berhenti di menara gading para akademisi perguruan tinggi, maupun semoga tak ada kesombongan para akademisi perguruan tinggi yang mengklaim seolah hanya tulisan sejarahnya yang layak disebut tulisan sejarah yang baik, yang ilmiah. Karena historiografi semestinya tak elitis, sebagaimana pesan Pak Kuntowijoyo, bahwa “siapapun berhak menjadi sejarawan”.