Kamis, 25 Desember 2014

Tentang “Berbeda Itu Biasa” nya Ketjilbergerak

Sebagai follower @ketjilbergerak, saya barangkali telah terbiasa menikmati tweet-tweet asik dan seru dari akun itu. Termasuk tentunya, apa yang menjadi alasan saya nge-follow ketjilbergerak; ya karena bagi saya ketjilbergerak tampak semacam wahana yang menampung dan menghasung kreatifitas anak-anak muda, khususnya di Yogyakarta dalam kerja-kerja budaya. Sehingga kreatifitas di sini dinaungi ide atau gagasan yang sederhananya mendidik dan produktif. Beberapa acara pameran sempat saya dengar, sembari mempelajari wacana-wacana dan agenda-agenda yang tertuang di website ketjilbergerak.org. Saya salut sepenuhnya.


Saya terkejut dan kagum. Baru-baru ini ketjilbergerak mengadakan agenda rutinnya yakni ‘kelas melamun’ #12 dengan tema “Berbeda Itu Biasa”. Singkatnya acara yang merupakan kerjasama ketjilbergerak dengan SMA Negeri 8 Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma, menghadirkan Sindhunata dan Marjuki Mohammad (Kill The DJ) sebagai pembicara. Terkait wacana “Berbeda Itu Biasa” ketjilbergerak sebelumnya sempat mengadakan acara lain, seperti acara ‘Kumpul Kampung’ yang berlangsung di Kampung Juminahan. Acara yang bisa dibilang semacam panggung rakyat ini pun berhasil menghadirkan berbagai performer mulai dari teater, musik, pantomim, tari dsb, ibarat kata menjadi sebuah bukti kongkrit ketjilbergerak dalam propaganda “Berbeda Itu Biasa”. Begitu seriusnya ketjilbergerak mengusung wacana ini, sampai-sampai merebaklah poster bertuliskan “Berbeda Itu Biasa” di berbagai penjuru tembok-tembok di Yogyakarta. Lantas seberapa pentingkah “berbeda itu biasa”?


Satu
      Pertanyaan di atas sebenarnya terjawab dengan gampang, asalkan kita mengikuti rangkaian acara tersebut. Apalagi jika kita memperhatikan konten yang diunggah dalam laman ketjilbergerak.org, khususnya video-video yang menunjukkan apa makna “berbeda itu biasa”. Terekam mulai dari anak-anak SMA, Mahasiswa, Pemuda Kampung, Komunitas Vespa, Skateboard, Musisi, Seniman sampai Budayawan dsb diwawancarai perihal toleransi. Yah, kurang lebih jawabannya sama. Semua narasumber berujar tentang toleransi dalam segala perbedaan, baik ras, suku dan agama, maupun ragam hobi, pekerjaan dll. Umumnya banyak yang menyitir frasa “bhineka tunggal ika” sebagai slogan resmi negara kita dalam proyek penyatuan nusantara. Kata toleransi lah yang saya kira hendak dipertegas dalam wacana “Berbeda Itu Biasa”. Tanpa panjang lebar, Cuma dengan menonton video tersebut, sudah lebih dari cukup untuk mengenali toleransi dan meresapi perbedaan ras, suku dan agama di Indonesia sebagai kewajaran. Tentu begitu miris mengingat beberapa waktu lalu sempat terjadi kasus-kasus kekerasan akibat perbedaan klub sepak bola, perbedaan suku dan ras sampai pemahaman dalam agama. Pemicunya bermacam-macam mulai dari soal salah paham sepele sampai fanatisme tertentu. Dari sini apa yang diwacanakan ketjilbergerak dalam berbeda itu biasa, tampak begitu penting. Fenomena poster “berbeda itu biasa” pun menjelma kerja keras ketjilbergerak dalam mempromosikan toleransi, sebagai bagian dari pendalaman atas ide pluralisme-multikulturalisme atau kemjemukan/keberagaman dalam proyek humanisme. Sehingga segala perbedaan haruslah disikapi dengan toleransi sebagai salah satu bentuk pelestarian kemanusiaan di Indonesia. Tetapi cukupkah Poster “Berbeda Itu Biasa” menjelaskan arti penting toleransi pada para pengguna jalan?


Dua
     Jawabannya relatif! Sebab mereka yang hanya berhenti dengan sepedanya, mobilnya atawa motornya di lampu merah jokteng wetan atau lampu merah jalan Munggur, hanya bisa melihat sakilas bentuk sosok-sosok yang berbeda warna dalam poster itu. Frasa Berbeda itu Biasa memang tampaknya terlihat jelas. Sayangnya para pengguna jalan itu, belum tentu mengerti tujuan bijak dari ketjilbergerak. Sebab belum tentu pula mereka membuka situs ketjilbergerak.org. Meskipun begitu bukan berarti mengecilkan peran poster selaku seni jalanan sekaligus berguna bagi media propaganda. Tak ketinggalan mural dan grafiti.



Saya hanya berharap, semoga poster “berbeda itu biasa” tidak disalahpahami. Misalnya berbeda itu biasa, kemudian dipahami bahwa ada yang kaya dan ada yang miskin adalah biasa saja. Sampai di sini saya hanya ingin menegaskan agar “berbeda itu biasa” bukan dipahami sebagai “timpang itu biasa”. Toleransi dalam perbedaan bukan berarti menolerir adanya manusia yang bermewah-mewah dan ada juga manusia yang susah makan atau bahkan busung lapar. Tentu fenomena kaya dan miskin bukan lagi persoalan perbedaan, tetapi ia telah mencapai ranah ketimpangan sosial. Ketimpangan bukanlah bagian dari kemajemukan atau pluralisme, ketimpangan adalah sebuah malapetaka. Ketimpangan adalah elemen dari ketidakadilan.
Pentingnya pendampingan dalam memahami slogan atau ide, dan membaca poster berbeda itu biasa. Sederhananya, harus pula diiringi membuka websitenya dan membaca maksudnya. Harus diakui bahwa slogan dan jargon dalam poster selamanya tetaplah kata-kata, ia menjadi penggerak kesadaran publik ketika dipahami dan dijalani, sebagaimana teori harus menjadi praktek. Salut buat ketjilbergerak! SemangArt!

Minggu, 14 Desember 2014

Sidewalls dan Habitat Cinta Manusia Apartemen

(tulisan ini merupakan selebaran pemantik diskusi film yang diselenggarakan tim redaksi jurnal histma, 9 desember 2014)


     Bisa jadi sebagai makhluk yang malas keluar sarang dengan dalih muak dan gerah dengan Jogja yang sekarang makin sering macet, lantas saya ditakdirkan untuk berjodoh dengan karya sutradara Gustavo Taretto ini. Setidaknya ketika kejengahan pada film hollywood makin memuncak, film berjudul Sidewalls: Buenos Aires In Time of Virtual Love menawarkan resonansi dari amerika selatan.
Membaca judulnya, jusru yang terngiang hanya fantasi FTV saya. Ditambah kebiasaan dicekoki drama korea yang puluhan episode itu. Jadilah sindrom orientalis mengendap kuat dan merudung benak saya yang pengennya tak lagi sekedar mooi indie tapi juga mooi movie. Tetapi katarsis saya langsung di-php film ini via kritik tokoh Martin pada pembangunan dan tata ruang kota Buenos Aires.
Sedari awal, klise demi klise panorama gedung-gedung pencakar langit, pemukiman berdesakan pun bertingkat-tingkat, industri berjejal, kabel-kabel dan pemancar televisi dimana-mana, tiang pancang konstruksi baja, cor semen bejubel dan berjuta apartemen yang menurut Martin menandakan culture of tenants. Budaya  penyewa apartemen yang bentuknya kotak-kotak dan bertumpuk-tumpuk hingga bagi Martin bagai shoebokes. Martin pun mendiagnosa. Bahwa kehidupan yang dibentuk dan didisiplinkan oleh arsitektur bangunan-bangunan dan tata ruang kota Buenos Aires dapat menyebabkan gangguan dan penyakit mulai dari sepparation, divorce, domestic violence, listlessness, lack of communication, apathy, depression, neurosis, panic attacks, obesity, tenseness, insecurity, hypochondria, stress, sedentary lifestyle dan suicide. Martin mengaku mengidap semuanya penyakit tadi, kecuali yang terakhir.


Inilah kiranya the real city (baca: SHITy). Sampai di sini sinema ini menyajikan kritik atas habit dan habitus manusia hiper-urban. Dimana tingkat perkembangan teknologi mendukung dan memudahkan segala aspek kehidupan sekaligus sangat menyendatkan. Lalu siapakah penyebab semua ini?
Satu
     Sinema yang mengikuti festival Panorama Berlinale 2011 ini diproduksi tahun 2011 dengan judul asli Medianeras. Tak kurang merupakan hasil repro Taretto atas film pendeknya yang berjudul sama di tahun 2005. Gaya semacam recycle inilah yang kemudian diulang Taretto di tahun ini dengan Las Insoladas. Sidewalls secara garis besar menceritakan dua kehidupan yakni Martin (Javier Drolas) dan Mariana (Pilar Lopez de Ayala). Ringkasnya film berdurasi 95 menit ini menyuguhkan kisah Martin dan Mariana yang senasib sepergalauan di tengah kehidupan shoeboxes-nya yang muram.
Martin yang dikungkung sepi dalam apartemennya dan hanya sibuk dengan dunia mayanya sejak sepuluh tahun lalu. Martin divonis psikiater menderita semacam phobia dan mudah panik. Sehingga ia menghabiskan waktu hampir setahun belakangan dengan hanya hidup di dalam apartemennya. Sampai psikiaternya menyarankan agar ia memulai melakukan kegiatan berjalan-jalan sembari memotret segala fenomena di kota Buenos Aires sebagai jalan penyembuhan.


Adapun Mariana seorang gadis cantik yang lulus dari jurusan arsitektur, tetapi mendaku belum pernah merancang gedung apapun. Mariana justru sudah hampir dua tahun bekerja sebagai shopping window designer, hal mana dia mempersiapkan dan mendesain tampilan jendela tempat para manekin berpose. Baik Martin dan Mariana sama sama memiliki kesamaan dalam hal kebosanan dan kesepian. Sama-sama gagal dalam percintaan, yakni Martin yang ‘LDR’ dengan jaminan mengurus anjing pacarnya, sedangkan Mariana baru saja putus dari hubungan yang empat tahun lamanya. Sampai kemudian mereka bertemu dengan ajaibnya. Lantas apakah cinta itu sebegitu mujurnya?
Baiklah! Katakanlah konteks Martin dan Mariana itu selaku pencarian identitas di tengah kehidupan hiper-urban Buenos Aires. Maka, saya mengimani bahwasanya cinta itu sendiri merupakan persoalan identitas. Terutama ketika cinta sendiri menjawab masalah eksistensi manusia yang paling penting menyangkut keterhubungan maupun keterpisahan.[1]
Identitas mestinya telah kita yakini tak lebih dari hasil kontsruksi sosial. Lalu apa yang harus dilakukan terhadap konstruksi sosial tersebut? Sanggupkah kita menciptakan citra identitas diri kita, di luar konstruksi sosial? Jika jawabannya tidak, maka sanggupkah cinta merefleksikan identitas manusia lepas dari konstruksi sosialnya? Jika sekali lagi tidak, maka cinta tetaplah tak bisa lepas dari konstruksi sosial. Lalu konstruksi sosial macam apakah yang membentuk pertemuan ajaib cinta Martin dan Mariana?
Akhirnya eksistensi Martin dan Mariana dalam Sidewalls tidaklah sekedar kita hentikan sebagai fenomena empirik percintaan manusia hiper-urban semata. Tetapi bagaimana hiper-urban mengkontruksi manusia-manusia di dalamnya, termasuk cinta itu sendiri.
Adapun kesepian dan kegalauan Martin dan Mariana tidaklah melulu soal konsekuensi dari kehidupan hiper-urban. Hal mana ibarat pledoi “sapa suruh datang Jakarta?!” bagi para pendatang Jakarta yang sial dalam arus urbanisasi. Sehingga solusinya selalu toleransi dan introspeksi atau menyalahkan diri sendiri. Seolah tak ada yang salah dari sistem. Seolah tak ada yang menjadi penyebab. Seolah tak ada yang perlu dirubah. Seolah kondisi itu bukanlah konstruksi sosial. Lalu, cukupkah cinta menenangkan ketidakberdayaan Martin dan Mariana di Buenos Aires?

dua
Saya semakin kaget. Bersamaan penampakan kredit titel, kita disuguhi selipan sequel happy ending Martin dan Mariana bermesraan jua berbahagia. Seolah memang telah ditakdirkan bertemu oleh sebab kesamaan dalam pergalauan. Seakan ingin memberi pesan pada kita bahwa Martin dan Mariana berhak berbahagia di tengah kehidupan Buenos Aires yang meng-alienasi keduanya sekalipun. Hebatnya bahagia di sini sama sekali tanpa merubah konstruksi sosial apapun, tetapi cukup dengan membuat jendela dengan membongkar tembok ‘sidewall/medianera’ apartemen demi mencipta jendela baru dan menjemput dewi fortuna cinta. Begitu sederhanakah habitat cinta di kota Buenos Aires?
 Tidak aneh kalau penonton berkesimpulan bahwa mencari cinta, cukuplah lewat pergulatan diri, dengan usaha toleransi dan memaklumi segala kenyataan sebagai upaya survive. Ironisnya lagi jika si penonton meyakini bahwa sesulit dan segalau apapun kehidupanmu, maka bikin jendela baru di apartemenmu, maka cinta akan menjemputmu.
Lantas bagaimana dengan mereka yang tak sanggup membeli apartemen? Jika begini, apakah berarti tak ada cinta bagi mereka yang hidup di kolong jembatan? Tak adakah cinta bagi mereka yang miskin dan tinggal di rumah-rumah biasa? Atau pula tak adakah cinta buat kalangan homeless, buat mereka yang tinggal di kawasan slum, dan mereka yang pengangguran? Lewat film ini, seolah taretto berpesan bahwa cinta sejati hanyalah mereka yang tahu caranya melubangi medianera buat ketemu jodohnya?!
Mungkin pertanyaan saya di atas terlalu memaksakan segala realitas terwakili dalam sebuah film. Tetapi apakah salah ketika penonton menghakimi sebuah film? Yang pasti kerinduan saya pada sinema romantik ternyata terkabulkan. Sayangnya saya terlanjur gagu dan cemburu, sebab saya saja tak mampu membeli apartemen, boro-boro mau melubangi tembok untuk sebuah jendela. Akhirnya menonton Sidewalls adalah menyaksikan cerita galau sepasang manusia kelas menengah perkotaan.
Kendati demikian, film ini justru memperingatkan saya pada kegelisahan hidup di kota. Sebab mekanisme ruang kota telah dipahami dalam gerak kapitalisme. Yakni ketika ruang dan bentuk kota ditentukan oleh mereka yang bermodal. Dalam film ini, pemukiman manusia Buenos Aires benar-benar tampak dibentuk oleh para pemodal apartemen. Pada akhirnya, menjadikan kota sebagai ajang fenomena kelas lengkap dengan dampak kesenjangan sosialnya antara kaya dan miskin. Padahal semestinya kota harus dimiliki oleh semua kelas sosial.[2]

tiga
Saya ingin kembali ke Jogja saja, kota yang lebih nyata di depan kita. Kalau anda lewat jembatan kewek, arah malioboro. Entah masih ada atau tidak, anda akan menemui papan baleho besar yang bertuliskan “Terima kasih jogja, Apartemen dan Condotel Sold Out”. Pertanyaannya, terima kasih pada siapakah? Bukankah itu hanya tertuju pada mereka yang sanggup membeli apartemen dan kemungkinan bergaya hidup jetset! Dan parahnya baleho besar itu menggantung di atas rumah-rumah orang biasa yang dimungkinkan tak mengenal apartemen![3]
Sekali lagi. Belum lama ini saya menemui papan baleho iklan semacam itu, di dekat bundaran UGM, yang mana bertuliskan “1 apartemen = 100 Pohon”. Tampaknya dapat ditafsir jika anda membeli apartemen, maka anda menyelamatkan atau menanam 100 pohon bagi hijaunya bumi ini. Lantas bagaimana jika semua orang ingin apartemen dengan iming-iming kebajikan semacam itu? Tentunya pengusaha dan pemodal properti akan tergoda untuk menyulap segala lahan menjadi apartemen. Lantas dimana 100 pohon itu akan tumbuh? Bukankah baru-baru ini warga Karangwuni melakukan demo penolakan apartemen dan hotel, yang salah satunya dipastikan menyedot persediaan air tanah bagi warga, sehingga sumur warga akan mengering.[4]
Dahulu ada yang mengkritik pembangunan kota Jogja yang mengandung aspirasi feodal-agraris,[5] tetapi kini jogja telah begitu kentara pembangunan capital-oriented-nya. Selamatkah cinta kita di kota semacam ini? Saya serahkan jawabnya pada cuplikan lirik lagu:
“Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita / Mimpi tentang rumah kita kehilangan tidurnya / Kosakata kota ragu terbata-bata...
Katakanlah padaku / Dimanakah hangat pelukmu / Pohon-pohon lupa kemana ia dilahirkan / Langkah-langkah kaki tersesat dalam keramaian / Kenangan-kenangan terhempas asap kendaraan / Tiada lagi yang tersisa dari rindu kita”[6]



[1] Erich Fromm, The Art of Loving (New York: Harper & Row, 1956), page. 7.
[2] David Harvey, Rebel Cities: From The Right To The City To The Urban Revolution (New York: Verso Book, 2012). Review ringkas misalnya periksa http://etnohistori.org/rebel-cities-kota-sebagai-pusat-ketidakpuasan-politik-ulasan-buku-oleh-hatib-abdul-kadir.html
[3] Analisa cerdas dan menarik ini saya kutip dari tulisan Mohammad Hadid, telusuri http://literasi.co/Terima-Kasih-Jogja
[4] Baca http://literasi.co/Bahaya.Sumur.Kering.Warga.Karangwuni.Tolak.Apartemen
[5] W. S. Rendra, “Kota Kasur Tua”. (dlm), Prisma, No. 6, Juni 1980, Tahun VII, hlm 47-49.
[6] Lagu dari Jalan Pulang, berjudul “Di Kota Ini Tak Ada Kamu Lagi”. Lagu ini sendiri sejatinya merupakan kerjasama band Jalan Pulang dengan ‘Komunitas Kota Untuk Manusia’ mengenai permasalah Kota Yogyakarta.