Sebagai follower @ketjilbergerak, saya
barangkali telah terbiasa menikmati tweet-tweet
asik dan seru dari akun itu. Termasuk tentunya, apa yang menjadi alasan saya
nge-follow ketjilbergerak; ya karena
bagi saya ketjilbergerak tampak semacam wahana yang menampung dan menghasung
kreatifitas anak-anak muda, khususnya di Yogyakarta dalam kerja-kerja budaya.
Sehingga kreatifitas di sini dinaungi ide atau gagasan yang sederhananya
mendidik dan produktif. Beberapa acara pameran sempat saya dengar, sembari
mempelajari wacana-wacana dan agenda-agenda yang tertuang di website ketjilbergerak.org. Saya salut
sepenuhnya.
Pertanyaan di atas sebenarnya terjawab dengan gampang, asalkan kita mengikuti rangkaian acara tersebut. Apalagi jika kita memperhatikan konten yang diunggah dalam laman ketjilbergerak.org, khususnya video-video yang menunjukkan apa makna “berbeda itu biasa”. Terekam mulai dari anak-anak SMA, Mahasiswa, Pemuda Kampung, Komunitas Vespa, Skateboard, Musisi, Seniman sampai Budayawan dsb diwawancarai perihal toleransi. Yah, kurang lebih jawabannya sama. Semua narasumber berujar tentang toleransi dalam segala perbedaan, baik ras, suku dan agama, maupun ragam hobi, pekerjaan dll. Umumnya banyak yang menyitir frasa “bhineka tunggal ika” sebagai slogan resmi negara kita dalam proyek penyatuan nusantara. Kata toleransi lah yang saya kira hendak dipertegas dalam wacana “Berbeda Itu Biasa”. Tanpa panjang lebar, Cuma dengan menonton video tersebut, sudah lebih dari cukup untuk mengenali toleransi dan meresapi perbedaan ras, suku dan agama di Indonesia sebagai kewajaran. Tentu begitu miris mengingat beberapa waktu lalu sempat terjadi kasus-kasus kekerasan akibat perbedaan klub sepak bola, perbedaan suku dan ras sampai pemahaman dalam agama. Pemicunya bermacam-macam mulai dari soal salah paham sepele sampai fanatisme tertentu. Dari sini apa yang diwacanakan ketjilbergerak dalam berbeda itu biasa, tampak begitu penting. Fenomena poster “berbeda itu biasa” pun menjelma kerja keras ketjilbergerak dalam mempromosikan toleransi, sebagai bagian dari pendalaman atas ide pluralisme-multikulturalisme atau kemjemukan/keberagaman dalam proyek humanisme. Sehingga segala perbedaan haruslah disikapi dengan toleransi sebagai salah satu bentuk pelestarian kemanusiaan di Indonesia. Tetapi cukupkah Poster “Berbeda Itu Biasa” menjelaskan arti penting toleransi pada para pengguna jalan?
Jawabannya
relatif! Sebab mereka yang hanya berhenti dengan sepedanya, mobilnya atawa
motornya di lampu merah jokteng wetan atau lampu merah jalan Munggur, hanya
bisa melihat sakilas bentuk sosok-sosok yang berbeda warna dalam poster itu.
Frasa Berbeda itu Biasa memang tampaknya terlihat jelas. Sayangnya para
pengguna jalan itu, belum tentu mengerti tujuan bijak dari ketjilbergerak.
Sebab belum tentu pula mereka membuka situs ketjilbergerak.org. Meskipun begitu
bukan berarti mengecilkan peran poster selaku seni jalanan sekaligus berguna
bagi media propaganda. Tak ketinggalan mural dan grafiti.
Pentingnya
pendampingan dalam memahami slogan atau ide, dan membaca poster berbeda itu
biasa. Sederhananya, harus pula diiringi membuka websitenya dan membaca
maksudnya. Harus diakui bahwa slogan dan jargon dalam poster selamanya tetaplah
kata-kata, ia menjadi penggerak kesadaran publik ketika dipahami dan dijalani,
sebagaimana teori harus menjadi praktek. Salut buat ketjilbergerak! SemangArt!




halo Adhi :D
BalasHapusketjil nih! :D
wah tulisannya keren!
kapan-kapan bisa nulis di web ketjil yah, Bro!
salam hangat dr teman-teman ketjilbergerak :D