“Sejarawan harus netral”, tak pernahku mengerti mengapa ungkapan ini harus dibenarkan. Asumsiku, ketika sosok seorang sejarawan menata bata rekostruksi atas sebuah obyek berbaur subyek dengan berbagai varian fakta dengan berharap menuai beragam tafsir, adapun berdalih alpha dari sebuah judge atas peristiwa. Saat itu pula sejarawan sebenarnya secara implisit menananamkan varian fakta yang dipaparkannya menuju sebuah latar belakang motifnya, yaitu mimik embrio subyektifitas. Apa yang dimiliki sang sejarawan melalui proses hermeneutics and verstehen, -mengikuti Dilthey juga diulang oleh Kuntowijoyo-. Sebenarnya ia menuju akhir atas eskavasi naluri hindsightnya menuju suatu keberpihakan, inilah yang menjadikan netralitas sebagai bentuk zonder. Terlebih seketika sejarawan mendalami hayat akan penelitian sejarahnya, menyelami jagad makna dan nilai dalam gerak sejarah, filsafatnya, struktur-struktur yang ia temukan, kaidah-kaidahnya, maka ia menemukan sebuah realitas pola pergerakan masyarakat yang berubah dan membentuk nebula bahkan paradigma dan ia sedikit banyak secara gradual akan menemukan makna akan proses hidup juga akan sari nilai kebijakan dan ,moral -mengikuti Khaldun-. Maka sebuah tanggung jawab baru seorang sejarawan ialah menjadi sosok intelektual alias cendekiawan, saat itulah -melalui embrio tendensius subyektifnya atas rekonstruksi peristiwa tersebut- menghantarkannya pada titik kulminasi keberpihakan atas kebenaran, humanisme, moralitas, kebajikan, dan perdamaian –mengikuti Edward Said-. Tentunya bukan menjadi apa yang disebut Julien Benda sebagai La Trahison des Clercs, dengan mengkultus tokoh, melegitimasi dogmatisme politik, ternina-bobokan dalam perlindiungan rezim dengan kritik hampa, mengarang retorika yang tak lebih dari mengkadzabkan umat, menyajikan narasi-narasi sampah yang dibayar untuk pagmatisme kebutuhan patron haus kuasa. Sungguh amat nista dan hina. Sudah saatnya sejarawan membuka mata, menimbang dengan perangkat ilmiah historisnya menuju wacana pembebasan dan pencerahan, hal ini menjawab kegelisahan akan absurdnya teori sejarah. intelektual berjuang mencerdaskan masyarakat, dengan menjelaskan hal-hal tentang dunia kepada masyarakat, begitu Karl Manheim berujar, Gramscipun bergumam dalam Prison Notebooksnya bahwa "orang dapat mengatakan semua manusia adalah intelektual, tetapi tidak semua manusia dalam masyarakat memiliki fungsi intelektual". Semestinya seorang sejarawan mampu berperan dalam mencerdaskan masyarakat tentang arti penting pertimbangan historis dalam menentukan pembangunan segala lini kehidupan. Maka kini Jawabnya satu, “Sejarah sebagai rekonstruksi menuju eksplanasi sejarah yang mencerahkan masa”, dan sejarawan menjadi salah satu agen prominen menuju gerakan konsains (penyadaran). Setidaknya menjadi salah satu pengawal manusia -bak profetik- dari wacana teoritik menuju realitas praksis, saat itu tiba kawanku, sejarah adalah ilmu terapan”, dan dialah ilmu yang perdana dimiliki manusia, kausal itu yang membuatku sependapat dengan Vico.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar