Minggu, 21 Juli 2013

Menyinggung Budaya Tanding

(petikan selebaran ringan yang saya ajukan dalam diskusi tema Histma)

“popular culture, especially, is organized around the contradiction: the popular forces versus the power-bloc”[1]
Sejarah sebagai ilmu empiris sangat didesak untuk memberikan penjelasan bagi masa depan. Hal ini terkait dengan relevansi perubahan (change) dan keberlanjutan (continuity) dalam dinamika masyarakat yang sanggup menguak arah pembangunan. Saya tidak ingin berbicara mengenai konsep-konsep developmentalisme baik yang populis maupun alternatif apalagi dalam sejarah kita. Hanya saja, lanskap pembangunan seringkali kita pahami sebagai pencapaian teknologis semata. Seolah-olah modernitas pun dianggap sebagai gaung bermulanya pembangunan yang berbasis kemajuan teknokratis. Kalaupun asumsi tersebut terlalu provokatif, toh pada kenyataannya banyak yang gelagapan menjabarkan letak kebudayaan dalam ide pembangunan. Saya berhenti dulu. Repot kalau nanti saya dikira maniak orde baru. Apalagi dikira ingin mengulang kembali ide Soedjatmoko tentang pembangunan kebudayaan. Baik. Kita renungkan sebentar!
==========================================================
Kalau berbicara tentang masyarakat agraris kita dulu. Kita akan merasa akrab dengan gaya masyarakat yang membedakan diri antara kalangan elit dan kalangan rakyat (tanpa bermaksud meniadakan kelas menengah lho). Atau antara priyayi dengan kawulo alias wong cilik. Contoh soal, Tahun 1910, Ciptomangunkusumo melintasi alun-alun Surakarta dengan bendi (semacam delman, dokar, andong), ia dianggap lancang. Cara itu dianggap khusus bagi kalangan bangsawan dan terlarang bagi masyarakat kebanyakan. Bahkan Ciptomangunkusumo dianggap mbalelo kekuasaan raja. Berbeda ketika sang raja Surakarta menurunkan wayang wong untuk ditonton secara umum di lapangan Sriwedari, -yang sejatinya menjadi bagian dari budaya massa kalangan kawulo-. Hal itu dianggap sama sekali tak menghilangkan kewibawaan sang raja. Di sisi lain keberadaan Tarian Tayub yang dianggap mempengaruhi Gambyong-nya Keraton, maupun permainan Nini Thowok yang berasal dari desa berhasil legal di kraton. Bagitu juga cerita Jaka Tarub yang berasal dari tradisi lisan lokal, dimasukkan dalam babad tradisi kraton.[2] Ini mencerminkan perjumpaan antara fenomena elitisasi budaya rakyat, dengan massifikasi budaya elit. Piye jal?
 Lalu apa itu budaya massa? Apakah sama dengan Budaya Populer atau Pop Culture? Baiklah. Jawabannya sama! Katakanlah kita terima bahwa massa berarti populer. Lalu kita masih bingung. Binatang apa itu pop culture? Pop memang berarti populer. Dalam keseharian sesuatu yang berbau populer sering dientengkan, kolokan, pasaran. Bahkan budaya populer cenderung dipandang sebagai penyimpangan dari pola-pola kebudayaan, prematur, sehingga dituntut untuk dikembangkan agar mencapai tingkat kebudayaan yang semestinya, yakni kebudayaan yang utama, yang tinggi. Padahal budaya massa ini bukanlah masalah normatif (baik atawa buruk) tetapi lebih kepada alternatif yang membedakan diri dari budaya yang telah mapan.[3] Budaya massa sebagai akibat dari proses massifikasi atau pemopuleran berkelit kelindan dengan adanya industrialisasi dan komersialisasi dalam sektor kebudayaan, walaupun keduanya tidak selalu berarti negatif bagi kebudayaan itu sendiri.[4] Menariknya kegairahan budaya massa ini sendiri cenderung mengarah pada bagaimana produknya berkomunikasi dan beraktivitas daripada penghargaan kritis dari masyarakat luas, sehingga di sisi lain ia menampakkan gejala kemassifannya sekaligus kesesaatannya.[5] Akibatnya sebagai produk, orientasinya sangat bergantung pada konsumsi massa. Hal ini memungkinkan produktifitasnya tak hanya pada penawaran mengikuti permintaan, namun juga volume permintaan bisa disesuaikan dengan besarnya penawaran. Terlebih dengan sokongan tehnik promosi dan kiat iklan.[6] Sejalan dengan yang diungkapkan Jean Baudrillard, bahwa hari ini orang membeli suatu produk bukan atas dasar kegunaan esensialnya, tetapi lebih kepada citra dan makna yang didapat dari pemakaian produk tersebut. Juga akibat dikompori oleh iklan yang menjurus pada kultus merek sampai kecerdasan industry menangkap trend untuk menggaet konsumen sebagaimana kasus jeans robek dalam jeans-isasi di Amerika.[7] Stop! Pusing saya! Istirahat!
Kalau sudah begini, apa fungsi budaya massa? Semestinya kita kembali pada aspirasi alternatif termasuk perlawanan atas kemapanan budaya tinggi yang sering dipertahankan, walau jelas terbukti merugikan (contoh soal, tradisi feodal hierarkis). Saya ingin menghentikan bahasan ini pada prospek kesejarahan kita sebagai dasar otentik dalam mengarahkan pembagunan budaya kita di masa depan. Khususnya realitas budaya massa sebagai budaya tanding di dalam masa silam sebagai asas pengembangan! Pertemuan lalu saya berbicara mengenai bahasa prokem, sebagai bentuk ekspresi massa generasi muda yang membedakan diri dengan bahasa mapan. Sekaligus akibat anggapan akan ketidakmampuan bahasa sebelumnya menanggapi aspirasi kaum muda, sehingga mereka menciptakan istilah baru. Misalnya untuk ayah jadi bokap, ibu jadi nyokap.[8] Hal ini berbeda tiap daerah. Di jogja pisu untuk ibu, sahan untuk bapak. Bahasa prokem bahkan berbeda tiap kelompok tertentu seperti kaum homo dan banci yang punya istilah lain, semisal repot jadi rempong, lelaki jadi lekong, mesra jadi mesrong dsb. Semua saya akumulasikan dalam tema budaya tanding!




[1] Stuart Hall, Note on Deconstructing the Popular, (1981).
[2] Kasus-kasus ini saya adaptasi dari Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa (dlm), Idi Subandi Ibrahim (editor),  “Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia” (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), hlm. 9.
[3] Ignas Kleden, Kebudayaan Pop: Kritik dan Pengakuan (dlm), Prisma, No.5, Tahun XVI, Mei, 1987, hlm. 3.
[4] Kuntowijoyo, Ibid, hlm. 11.
[5] Ignas Kleden, Ibid, hlm. 4-5.
[6] Ibid, hlm. 5-6.
[7] John Fiske, Memahami Budaya Populer (Yogyakarta: Jalasutra, 2011), hlm. 1-24.
[8] Lihat penjelasan tentang bahasa prokem secara inguistik dalam Henri Chambert-Loir, Mereka yang berbahasa Prokem (dlm), “Citra Masyarakat Indonesia” (Jakarta: Sinar Harapan, 1983), hlm. 112-130.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar