(petikan selebaran ringan yang saya ajukan dalam diskusi tema Histma)
“popular culture, especially, is
organized around the contradiction: the popular forces versus the power-bloc”[1]
Sejarah
sebagai ilmu empiris sangat didesak untuk memberikan penjelasan bagi masa
depan. Hal ini terkait dengan relevansi perubahan (change) dan keberlanjutan
(continuity) dalam dinamika masyarakat yang sanggup menguak arah pembangunan.
Saya tidak ingin berbicara mengenai konsep-konsep developmentalisme baik yang populis maupun alternatif apalagi dalam
sejarah kita. Hanya saja, lanskap pembangunan seringkali kita pahami sebagai
pencapaian teknologis semata. Seolah-olah modernitas pun dianggap sebagai gaung
bermulanya pembangunan yang berbasis kemajuan teknokratis. Kalaupun asumsi
tersebut terlalu provokatif, toh pada kenyataannya banyak yang gelagapan
menjabarkan letak kebudayaan dalam ide pembangunan. Saya berhenti dulu. Repot
kalau nanti saya dikira maniak orde baru. Apalagi dikira ingin mengulang
kembali ide Soedjatmoko tentang pembangunan kebudayaan. Baik. Kita renungkan
sebentar!
==========================================================
Kalau
berbicara tentang masyarakat agraris kita dulu. Kita akan merasa akrab dengan
gaya masyarakat yang membedakan diri antara kalangan elit dan kalangan rakyat
(tanpa bermaksud meniadakan kelas menengah lho). Atau antara priyayi dengan kawulo alias wong cilik.
Contoh soal, Tahun 1910, Ciptomangunkusumo melintasi alun-alun Surakarta dengan
bendi (semacam delman, dokar, andong),
ia dianggap lancang. Cara itu dianggap khusus bagi kalangan bangsawan dan
terlarang bagi masyarakat kebanyakan. Bahkan Ciptomangunkusumo dianggap mbalelo kekuasaan raja. Berbeda ketika
sang raja Surakarta menurunkan wayang wong untuk ditonton secara umum di
lapangan Sriwedari, -yang sejatinya menjadi bagian dari budaya massa kalangan
kawulo-. Hal itu dianggap sama sekali tak menghilangkan kewibawaan sang raja.
Di sisi lain keberadaan Tarian Tayub yang dianggap mempengaruhi Gambyong-nya
Keraton, maupun permainan Nini Thowok yang berasal dari desa berhasil legal di
kraton. Bagitu juga cerita Jaka Tarub yang berasal dari tradisi lisan lokal,
dimasukkan dalam babad tradisi kraton.[2]
Ini mencerminkan perjumpaan antara fenomena elitisasi budaya rakyat, dengan
massifikasi budaya elit. Piye jal?
Lalu apa itu budaya massa? Apakah sama dengan
Budaya Populer atau Pop Culture? Baiklah.
Jawabannya sama! Katakanlah kita terima bahwa massa berarti populer. Lalu kita
masih bingung. Binatang apa itu pop
culture? Pop memang berarti populer. Dalam keseharian sesuatu yang berbau populer
sering dientengkan, kolokan, pasaran. Bahkan budaya populer cenderung dipandang
sebagai penyimpangan dari pola-pola kebudayaan, prematur, sehingga dituntut
untuk dikembangkan agar mencapai tingkat kebudayaan yang semestinya, yakni
kebudayaan yang utama, yang tinggi. Padahal budaya massa ini bukanlah masalah
normatif (baik atawa buruk) tetapi lebih kepada alternatif yang membedakan diri
dari budaya yang telah mapan.[3]
Budaya massa sebagai akibat dari proses massifikasi atau pemopuleran berkelit
kelindan dengan adanya industrialisasi
dan komersialisasi dalam sektor
kebudayaan, walaupun keduanya tidak selalu berarti negatif bagi kebudayaan itu
sendiri.[4]
Menariknya kegairahan budaya massa ini sendiri cenderung mengarah pada
bagaimana produknya berkomunikasi dan beraktivitas daripada penghargaan kritis
dari masyarakat luas, sehingga di sisi lain ia menampakkan gejala kemassifannya
sekaligus kesesaatannya.[5]
Akibatnya sebagai produk, orientasinya sangat bergantung pada konsumsi massa. Hal
ini memungkinkan produktifitasnya tak hanya pada penawaran mengikuti
permintaan, namun juga volume permintaan bisa disesuaikan dengan besarnya
penawaran. Terlebih dengan sokongan tehnik promosi dan kiat iklan.[6]
Sejalan dengan yang diungkapkan Jean Baudrillard, bahwa hari ini orang membeli
suatu produk bukan atas dasar kegunaan esensialnya, tetapi lebih kepada citra
dan makna yang didapat dari pemakaian produk tersebut. Juga akibat dikompori
oleh iklan yang menjurus pada kultus merek sampai kecerdasan industry
menangkap trend untuk menggaet konsumen sebagaimana kasus jeans robek dalam jeans-isasi
di Amerika.[7]
Stop! Pusing saya! Istirahat!
Kalau sudah
begini, apa fungsi budaya massa? Semestinya kita kembali pada aspirasi
alternatif termasuk perlawanan atas kemapanan budaya tinggi yang sering
dipertahankan, walau jelas terbukti merugikan (contoh soal, tradisi feodal
hierarkis). Saya ingin menghentikan bahasan ini pada prospek kesejarahan kita
sebagai dasar otentik dalam mengarahkan pembagunan budaya kita di masa depan.
Khususnya realitas budaya massa sebagai budaya tanding di dalam masa silam
sebagai asas pengembangan! Pertemuan lalu saya berbicara mengenai bahasa
prokem, sebagai bentuk ekspresi massa generasi muda yang membedakan diri dengan
bahasa mapan. Sekaligus akibat anggapan akan ketidakmampuan bahasa sebelumnya
menanggapi aspirasi kaum muda, sehingga mereka menciptakan istilah baru.
Misalnya untuk ayah jadi bokap, ibu jadi
nyokap.[8]
Hal ini berbeda tiap daerah. Di jogja pisu
untuk ibu, sahan untuk bapak. Bahasa
prokem bahkan berbeda tiap kelompok tertentu seperti kaum homo dan banci yang
punya istilah lain, semisal repot jadi rempong,
lelaki jadi lekong, mesra jadi mesrong dsb. Semua saya akumulasikan
dalam tema budaya tanding!
[1] Stuart Hall, Note on
Deconstructing the Popular, (1981).
[2] Kasus-kasus ini saya adaptasi dari Kuntowijoyo, Budaya Elite dan Budaya Massa (dlm), Idi Subandi Ibrahim (editor), “Lifestyle Ecstasy: Kebudayaan Pop dalam
Masyarakat Komoditas Indonesia” (Yogyakarta: Jalasutra, 2004), hlm. 9.
[3] Ignas Kleden, Kebudayaan Pop:
Kritik dan Pengakuan (dlm), Prisma, No.5, Tahun XVI, Mei, 1987, hlm. 3.
[4] Kuntowijoyo, Ibid, hlm. 11.
[5] Ignas Kleden, Ibid, hlm.
4-5.
[6] Ibid, hlm. 5-6.
[7] John Fiske, Memahami Budaya
Populer (Yogyakarta: Jalasutra, 2011), hlm. 1-24.
[8] Lihat penjelasan tentang bahasa prokem secara inguistik dalam Henri
Chambert-Loir, Mereka yang berbahasa
Prokem (dlm), “Citra Masyarakat Indonesia” (Jakarta: Sinar Harapan, 1983),
hlm. 112-130.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar