Kurang lebih hampir 6 tahun yang lalu, jagad ilmu
antropologi kehilangan salah seorang begawannya dalam umur 80 tahun.[1] Setelah menyelesaikan
kuliahnya di Antioch College di Ohio, Amerika Serikat dengan gelar Bachelor of Arts di bidang Filsafat, ia
melanjutkan studinya untuk menekuni bidang antropologi di Universitas Harvard.
Pada musim semi tahun 1956, sebuah disertasi doktoral diajukannya, musim pun
berlalu beberapa tahun kemudian terbitlah sebuah buku berjudul Religion of Java -1960-. Kawasan yang
disebutnya Mojokuto, Pare –Jawa Timur- menjadi lokus penelitian yang didukung
oleh Ford Foundation juga Massachusetts Institute of Technology
(MIT) dengan beberapa indikasi dan kecurigan akan kepentingan diplomatis
Amerika Serikat di negeri ketiga yang katanya sedang berkembang. Trikotomi
Abangan, Santri, Priyayi menyeruak membahana bagai kabar burung di telinga
sidang ilmiah indonesia.[2] Banyak pakar memuji
apalagi mengkritik namun sekiranya sebagai bagian dari kaidah dialektis ilmu.
Akibatnya ia pun mendapat gelar baru, indonesianis.[3]
Dialah Clifford Geertz. Berbagai karangan, esei
dan artikelnya kemudian kondang menjadi rujukan dan bahan diskusi berbagai
peneliti di penjuru dunia. Diantaranya sebuah kumpulan artikelnya yang
diterbitkan tahun 1973 berjudul The Interpretation of Cultures, menjadi
retorika teoritisnya yang eksplisit dengan bab pertamanya Thick Decsription: Toward an Interpretative Theory of Culture yang
mengenalkan konsepsi Thick Description (lukisan mendalam) dalam memahami
manusia, di samping ia mengingatkan akan kunci pemahaman tentang kebudayaan
adalah ide tentang makna (meaning, significance). Pada Bab keempat dari buku
tersebut, berjudul religion as a cultural
system –eseinya yang ditulis tahun 1966- Geertz memulai pendekatannya pada
pentingnya menginovasikan teori-teori klasik dalam konteks kontemporer yang
lebih komprehensif. Mengingat dalam kajian agama yang selama ini, menurutnya
berkutat pada empat sumbangan teoritik penting yaitu, Emile Durkheim –misalnya
konsepsinya seputar hakikat kudus dsb-, Max Weber –tentang metodologi verstehen- Sigmund Freud –persoalan
seputar relasi ritus pribadi dan ritus pararel dan eksplorasi Bronislaw
Malinowski terkait diferensiasi antara agama dan akal sehat atau rasio.[4] Akibatnya Geertz selain
mengingatkan konsepsi kebudayaan terkait pattern
of meaning –pola-pola makna- ia juga menganggap bahwa agama sebagai
perwujudan simbol, makna maupun konsep.
Geertz sendiri sampai pada usaha pendefinisan atas
agama, yang menurutnya merupakan (1) a system of symbols which
acts to (2) establish powerful, pervasive, and long-lasting moods
and motivations in men by (3) formulating conceptions of a
general order of existence and (4) clothing these conceptions
with such an aura of factuality that (5) the moods and
motivations seem uniquely realistic.[5] Kemudian Geertz beranjak tentang dua segi dalam
kepercayaan religius yaitu model “untuk” dan model “dari”. Hal mana menjelaskan
bahwa prespektif dari agama secara inhern terkait sebagai sumber konsep umum
namun jelas bagi individu maupun kelompok terkait hubungan dengan dunianya,
dengan perspektif dari luar terkait keseluruhan alam, kesesuaian dengan
kenyataan kultural manusia dalam menjalani aktifitas agamanya. Dicontohkan
terkait pembangunan bendungan, dari yang berteori ke praktek dengan sebaliknya.
Secara implisit Geertz juga mulai mempertanyakan
relevansi teori-teori klasik, semisal konsepsi animism dari Edward Burnet
Tylor, tentunya terkait penghadapan fenomena interpretasi atas roh dan benda
dalam realitas relativisme kebudayaan[6] -yang dilhami pandangan
Baron de la Brede et de Montesquieu-. Di akhir artikelnya Geertz berargumen
bahwa studi antropologi mengenai agama merupakan wujud operasi dua tahap,
pertama, sebagai analisis atas sistem makna-makna yang terkandung di dalam
simbol-simbol yang meliputi suatu agama, dan kedua, dengan mengaitkan
sistem-sietem tersebut pada struktur sosial dan proses-proses psikologis. Adapun
penjelasannya dari persoalan paradigma tentang makna, agama sebagai ciri-ciri
mentalitas masyarakat dan kebudayaannya, pencontohan Plains Indian, Upacara
arwah Manus, Kebatinan Jawa sampai mekanika kuantum Enstein yang menurutnya
sebagai ekspresi religius, analogi tentang jamur, Teologi Kristen –gereja-,
Hindu, Buddha, Cerita pertunjukkan di Bali, Rangda dan Barong dsb. Sehingga secara
general pola eksplanasi geertz lebih menggunakan metode komparasi, analogi dan
tentu saja sepanjang pengalaman penelitian dan pemahamannya. Sebagaimana yang
diungkapkan Karl Manheim tentang keterkaitan antara pengetahuan dan eksistensi
manusia terkait latar belakang sosial dan psikologis-individu sebagaimana kita
pahami ilmu pengetahuan yang diproduksi manusia ditularkan untuk manusia lain.[7] Meskipun dalam beberapa
hal cukup membingungkan bagi saya, namun apa yang diupayakan Geertz dalam
artikel Religion as a Cultural System
menjadi format progresif tersendiri dalam memahami agama sebagai bagian dari
kebudayaan, terlebih agama sebagai faktor akan realitas baik sosial-ekonomi.[8]
[1] Tulisan ini sebagai sebuah review
atas artikel Clifford Geertz yang berjudul Religion
As a Cultural System yang termuat
dalam buku Interpretation of Culture
(New York: Basic Books Inc, 1974) dalam memenuhi tugas mata kuliah antropologi
agama.
[2] Lihat pula dalam edisi terjemahan
Bur Rasuanto, Clifford Geertz, Abangan,
Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983)
[3]
Sebagai reportase jurnalistik yang menarik seputar indonesianis, lihat
Majalah Tempo edisi 14-24 November 2011, Liputan khusus Republik
di Mata Indonesianis: Pasang surut peran peneliti asing dalam sejarah Indonesia.
[4] Lihat terjemahanh Francisco Budi
Hardiman, Clifford Geertz, Kebudayaan dan
Agama (Yogyakarta: Kanisisus, 1992)
[5] Dikutip dari Clifford Geertz, The Interpretation of…, op.cit. hal. 90.
[6] Lihat Clifford
Geertz, Kebudayaan…., op.cit. 16-17.
[7] Bisa dilihat dalam Karl Manheim, Ideologi dan Utopia: Menyingkap Kaitan
Pikiran dan Politik (Yogyakarta: Kanisisus, 1991)
[8] Bisa dilihat tulisan Clifford
Geertz, Keyakinan Religius dan Perilaku ekonomi di Sebuah Desa di Jawa Tengah:
Beberapa Pemikiran Awal, (dlm) suntingan Nat J. Colleta dan Umar Kayam,
Kebudayaan dan Pembangunan: Sebuah pendekatan terhadap antropologi terapan di
Indonesia (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1987). Hal. 49-100. Dan Clifford
Geerz, Religion of Java, op.cit. Atau
Clifford Geertz, Culture and Social
Change: The Indonesian Case, (Huxley
Memorial Lecture, I983) dapat didownload di http://www.jstor.org//
Tidak ada komentar:
Posting Komentar