Senin, 23 April 2012

Tylor dan seputar Animisme


In Studying the phenomena of knowledge and art, religion and mythology, law and custom, and the rest of the complex whole which we call civilization, it is not enough to have in view the more advanced races, and to know their history……The explanation of the state of things in which we live has often to be sought on the condition of rude and early tribes (Edward B. Tylor)[1]
1832, lahirlah Edward Burnett Tylor. Tak dapat dipungkiri sosok kelahiran Inggris ini amatlah populer dalam jagad ilmu antropologi. Besar dari keluarga kaya, Quaker. Tahun 1856, setelah ketertarikannya terhadap ilmu arkeologi, ia berkesempatan turut serta dalam ekspedisi ekskavasi di Mexico hingga dalam tangan dinginnya sebagai asisten dalam penelitian tersebut, lahirlah karya yang pertama Anahuac, or Mexico and the Mexicans, Ancient and Modern pada tahun 1961.[2] Mungkin terlalu naif untuk mengatakan bahwa karya pertama itu adalah juga sebagai pemicu bagi kehadiran berbagai banyak karangannya,[3] hal mana di kemudian hari turut menjadikannya sebagai profesor dalam bidang antropologi yang perdana di Inggris.
Dalam Primitive Culture pada halaman awal, Tylor mengungkapkan:  “On the one hand, the uniformity which so largely pervades civilization maybe ascribed to the uniform action of uniform causes: while on the other hand its various grades may be regarded as stages of development or evolution”. Ungkapan tersebut menunjukkan kesetiannya pada konsepsi evolusi, namun dia juga memahami relativitas kebudayaan. Tylor melanjutkan pertanyaan pentingnya dalam dua hal apakah manusia dalam pikiran dan tindakannya tunduk dalam hukum atau apakah kebudayaan primitif sebagai suatu permulaan suatu tahapan perkembangan atau sebagai dampak dari degenerasi.[4] Penjelasan-penjelasannya mengenai degenerasi, evolusi maupun pada persoalan parentage terkait sejarah peradaban manusia. Adapun penafsirannya dalam soal evolusi, ia menilai bahwa dalam mempelajari evolusi kebudayaan, seorang peneliti menggunakan unsur-unsur sisa-sisa dalam tiap kebudayaan yang darinya berlanjut pada kebudayaan selanjutnya, konsepsi ini dikenal sebagai survival. Tylor sendiri membagi kebudayaan dalam tiga tahapan yang terkenal yaitu; Tahap Savage, Barbarism dan Civilization. Pada masing-masingnya terdapat pembagian sesuai tipikal kemajuannya. Menariknya ia mengetengahkan bahwa religi atau kepercayaan manusia juga dalam pola evolusi.
Pada jilid keduanya, Tylor menjelaskan bahwa religi terdapat pada orang-orang yang percaya pada roh atau “The belief of spiritual being”. Hal inilah yang ia sebut sebagai animisme. Ia mengungkapkan tentang dua dogma animisme: Pertama, Conserning souls of individual creatures, capable of continued existence after the death or the destruction of the body; Kedua, Concerning other spirit upward to the rank of powerful deities. Tylor pun menilai bahwa manusia sampai pada gagasan animisme adalah akibat adanya pemahaman manusia mengenai kematian dan impian atau mimpi. Dari kematian manusia mampu membedakan mana yang hidup dan mati, dan darinya ditemukan konsepsi tentang jiwa atau soul sebagai sesuatu yang menaungi raga manusia yang hidup, dan ketika soul itu lepas dari raga, maka manusia mati dalam aktivitasnya. Dalam kajiannya mengenai mimpi, Tylor menilai bahwa manusia menemukan suatu dunia di mana ia berbeda dengan dunia yang nyata, bahkan orang mati pun muncul di dalamnya. Mulailah manusia mencapai pemahaman tentang roh atau jiwa itu tadi. Roh, jiwa atau soul yang telah terlepas dari raga jasmaninya, maka ia berubah menjadi roh bebas, dan Tylor menamakannya sebagai spirit. Dasar kepercayaan semacam inilah yang turut melahirkan ritus-ritus terhadap kepercayaan atas roh-roh. Dalam tahap tertentu, kepercayaan manusia menilai bahwa segala gejala alam diakibatkan oleh aktivitas roh-roh yang menguasai dunia, hingga kemudian mencapai pada penilaian tentang roh atau arwah tunggal yang maha kuasa atau seperti dikenal sebagai dewa. Animisme, bagi Tylor merupakan produk kepercayaan yang alamiah. Tylor memulai pembahasannya mengenai doktrin, hal mana animisme terkait pemujaan terhadap roh sebagai suatu kultus, didapati logika korban atau sajian. Awalnya, korban dipahami sebagai permintaan sang dewa namun kemudian dipahami sebagai suatu hadiah atau penghargaan dan pada tahapan tertinggi, korban sebagai suatu wujud rasa toleran atau untuk tidak menikmati sendiri korban itu atau semacam rasa terima kasih kepada sang dewa atau semacam syukur dalam islam.
Setelah berbagi penjelasannya yang panjang, terkait animisme sebagai bagian dari evolusi religius manusia, dalam buku Primitive Culture, ia kembali menekankan arti penting studi etnologi, atau ia sebut para penelitinya sebagai ethnographer atau anthropologist, menjadi sebuah pekerjaan yang prominen dalam membangun kerangka fakta-fakta di tiap realitas kebudayaan di dunia yang beragam. Akhirnya harus diakui apa yang diawali Tylor, menjadi suatu sumbangan utama dalam kajian antropologi agama, sosiologi agama dan segala kajian agama. Wafatlah. 1917.


[1] J. Van Baal, Sejarah dan Pertumbuhan Teori Antropologi Budaya (Jakarta: Gramedia, 1987) hlm. 85.
[2] Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1 (Jakarta: UI-Press, 1987) hlm. 46.
[3] Menyusul beberapa karangannya yang masyhur seperti Research into the early Historyof Mankind (1865), disusul dua jilid Primitive Culture: Research into the Development of Mythology, Philosophy, Religion, language, Art and Custom (1871), On a method of Investigating the Development of Institution; Applied to the Laws of Marriage and Descent (1889).
[4] Loc.cit, hlm. 86.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar