In Studying the
phenomena of knowledge and art, religion and mythology, law and custom, and the
rest of the complex whole which we call civilization, it is not enough to have
in view the more advanced races, and to know their history……The explanation of
the state of things in which we live has often to be sought on the condition of
rude and early tribes (Edward B. Tylor)[1]
1832, lahirlah Edward
Burnett Tylor. Tak dapat dipungkiri sosok kelahiran Inggris ini amatlah
populer dalam jagad ilmu antropologi. Besar dari keluarga kaya, Quaker. Tahun
1856, setelah ketertarikannya terhadap ilmu arkeologi, ia berkesempatan turut
serta dalam ekspedisi ekskavasi di Mexico hingga dalam tangan dinginnya sebagai
asisten dalam penelitian tersebut, lahirlah karya yang pertama Anahuac, or
Mexico and the Mexicans, Ancient and Modern pada tahun 1961.[2] Mungkin terlalu naif untuk
mengatakan bahwa karya pertama itu adalah juga sebagai pemicu bagi kehadiran
berbagai banyak karangannya,[3] hal mana di kemudian hari
turut menjadikannya sebagai profesor dalam bidang antropologi yang perdana di
Inggris.
Dalam Primitive
Culture pada halaman awal, Tylor mengungkapkan: “On the one hand, the uniformity which so
largely pervades civilization maybe ascribed to the uniform action of uniform
causes: while on the other hand its various grades may be regarded as stages of
development or evolution”. Ungkapan tersebut menunjukkan kesetiannya pada
konsepsi evolusi, namun dia juga memahami relativitas kebudayaan. Tylor
melanjutkan pertanyaan pentingnya dalam dua hal apakah manusia dalam pikiran
dan tindakannya tunduk dalam hukum atau apakah kebudayaan primitif sebagai
suatu permulaan suatu tahapan perkembangan atau sebagai dampak dari degenerasi.[4] Penjelasan-penjelasannya
mengenai degenerasi, evolusi maupun pada persoalan parentage terkait
sejarah peradaban manusia. Adapun penafsirannya dalam soal evolusi, ia menilai
bahwa dalam mempelajari evolusi kebudayaan, seorang peneliti menggunakan
unsur-unsur sisa-sisa dalam tiap kebudayaan yang darinya berlanjut pada
kebudayaan selanjutnya, konsepsi ini dikenal sebagai survival. Tylor
sendiri membagi kebudayaan dalam tiga tahapan yang terkenal yaitu; Tahap Savage,
Barbarism dan Civilization. Pada masing-masingnya terdapat
pembagian sesuai tipikal kemajuannya. Menariknya ia mengetengahkan bahwa religi
atau kepercayaan manusia juga dalam pola evolusi.
Pada jilid
keduanya, Tylor menjelaskan bahwa religi terdapat pada orang-orang yang percaya
pada roh atau “The belief of spiritual being”. Hal inilah yang ia sebut
sebagai animisme. Ia mengungkapkan tentang dua dogma animisme: Pertama, Conserning
souls of individual creatures, capable of continued existence after the death
or the destruction of the body; Kedua, Concerning other spirit upward to
the rank of powerful deities. Tylor pun menilai bahwa manusia sampai pada
gagasan animisme adalah akibat adanya pemahaman manusia mengenai kematian dan
impian atau mimpi. Dari kematian manusia mampu membedakan mana yang hidup dan
mati, dan darinya ditemukan konsepsi tentang jiwa atau soul sebagai
sesuatu yang menaungi raga manusia yang hidup, dan ketika soul itu lepas
dari raga, maka manusia mati dalam aktivitasnya. Dalam kajiannya mengenai
mimpi, Tylor menilai bahwa manusia menemukan suatu dunia di mana ia berbeda
dengan dunia yang nyata, bahkan orang mati pun muncul di dalamnya. Mulailah
manusia mencapai pemahaman tentang roh atau jiwa itu tadi. Roh, jiwa atau soul
yang telah terlepas dari raga jasmaninya, maka ia berubah menjadi roh bebas,
dan Tylor menamakannya sebagai spirit. Dasar kepercayaan semacam inilah
yang turut melahirkan ritus-ritus terhadap kepercayaan atas roh-roh. Dalam
tahap tertentu, kepercayaan manusia menilai bahwa segala gejala alam
diakibatkan oleh aktivitas roh-roh yang menguasai dunia, hingga kemudian
mencapai pada penilaian tentang roh atau arwah tunggal yang maha kuasa atau
seperti dikenal sebagai dewa. Animisme, bagi Tylor merupakan produk kepercayaan
yang alamiah. Tylor memulai pembahasannya mengenai doktrin, hal mana animisme
terkait pemujaan terhadap roh sebagai suatu kultus, didapati logika korban atau
sajian. Awalnya, korban dipahami sebagai permintaan sang dewa namun kemudian
dipahami sebagai suatu hadiah atau penghargaan dan pada tahapan tertinggi,
korban sebagai suatu wujud rasa toleran atau untuk tidak menikmati sendiri
korban itu atau semacam rasa terima kasih kepada sang dewa atau semacam syukur
dalam islam.
Setelah berbagi
penjelasannya yang panjang, terkait animisme sebagai bagian dari evolusi
religius manusia, dalam buku Primitive Culture, ia kembali menekankan
arti penting studi etnologi, atau ia sebut para penelitinya sebagai ethnographer
atau anthropologist, menjadi sebuah pekerjaan yang prominen dalam
membangun kerangka fakta-fakta di tiap realitas kebudayaan di dunia yang
beragam. Akhirnya harus diakui apa yang diawali Tylor, menjadi suatu
sumbangan utama dalam kajian antropologi agama, sosiologi agama dan segala kajian
agama. Wafatlah. 1917.
[1] J. Van Baal, Sejarah dan Pertumbuhan
Teori Antropologi Budaya (Jakarta: Gramedia, 1987) hlm.
85.
[2] Koentjaraningrat, Sejarah Teori Antropologi 1
(Jakarta: UI-Press, 1987) hlm. 46.
[3] Menyusul beberapa karangannya yang masyhur seperti Research
into the early Historyof Mankind (1865), disusul dua jilid Primitive
Culture: Research into the Development of Mythology, Philosophy, Religion,
language, Art and Custom (1871), On a method of Investigating the
Development of Institution; Applied to the Laws of Marriage and Descent (1889).
[4] Loc.cit, hlm. 86.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar