Sabtu, 16 Maret 2013

Kemunculan Industrialisasi di Eropa: beberapa faktor dan dampaknya

(Artikel ini ditulis sebagai paper pembicara dalam acara seminar sejarah eropa, 15 maret 2013. @Ruang Multimedia, FIB, UGM)

Eropa sebagai entitas ekonomi amatlah kompleks. Beragam aktor, latar, iklim atau cuaca dan peristiwa bergulir dalam berbagai periode menggerakkan Continuity (keberlanjutan) dan Change (perubahan) dalam kurun sejarah. Sayangnya, diakibatkan pemahaman kita yang sering menyederhanakan sejarah manusia, baik itu sejarah indonesia, sejarah eropa maupun sejarah dunia secara keseluruhan ke dalam tabel-tabel sederhana yang hanya memuat tahun-tahun yang memang terkesan kronologis, namun sejatinya hal itu justru mengesankan sejarah dalam bentuk yang rigid (kaku). Demikianlah narasi pendek ini berupaya melawan pemahaman banal (dangkal) tersebut dengan penceritaan sejarah sebagai sebuah proses yang mendesak untuk dijelaskan, dipahami dan dimengerti dengan berbagai dimensi dan perspektif. Sedangkan dalam menjelaskan sejarah eropa dan asia sebagai sebuah relasi berikut ini, sengaja menelaah benang merah sejarah industrialisasi. Adapun kurang-lebihnya sebagai sebuah penilaian kami kembalikan kepada sidang pembaca, mengingat keterbatasan ruang dan waktu bagi penulis.

Awalnya Borjuasi, sampai kemudian industrialisasi Eropa Barat menggeliat
Mempelajari sejarah eropa, sangatlah mustahil meniadakan sosok Borjuasi. Secara sederhana kita mengenal dalam lanskap revolusi perancis sampai kepada revolusi industri yang sejatinya merupakan pencapaian dari aspirasi kaum borjuasi. Adapun pergeseran pasca berakhirnya zaman pertengahan menuju zaman modern diselingi oleh beberapa proses penting.
Pertama; ialah proses ‘reformasi’. Memuat reformasi terhadap peran sentral lembaga dan kredo Kristen yang melahirkan gerakan reformasi generasi pertama melalui tokohnya Martin Luther (1483-1546) dengan Protestanismenya, dilanjutkan gerakan reformasi generasi kedua yang diwakili oleh tokoh tokoh semisal Ulrich Zwingli (1484-1531), Martin Bucer (1491-1551) dan yang paling kondang adalah John Calvin (1509-1564) dengan Calvinisme-nya. Apa yang digagaskan Luther turut merubah cara pandang masyarakat eropa terhadap peran kependetaan dan bahkan cenderung membawa kepada individualisme. Calvinisme sendiri banyak diadaptasi oleh berbagai penjuru masyarakat eropa, seperti di Inggris mereka menamakan diri sebagai puritan, di Skotlandia mereka dikenal sebagai Prebyterian, sampai dibagian negara lain seperti Belanda, Perancis, Jerman, Polandia, dan Hungaria. Bahkan di Belanda, calvinisme mempengaruhi gerakan pemberontakan di tahun 1572. 
Kedua; proses ‘renaissance’ dan ‘humanisme’ melengkapi realitas abad pertengahan, semisal pemikiran Machiavelli tentang hakikat politik, lalu pandangan masyarakat italia utara misalnya turut mencita-citakan seorang gentlemen (identik dengan prilaku luhur, sangat menghormati dan menaruh perhatian terhadap kesusastraan, kesenian termasuk pula ilmu pengetahuan), daripada seorang chivalry (identik dengan budaya prajurit dekat dengan perkelahian ala hukum rimba, yang kuat yang menang). Renaissance dan Humanisme pada akhirnya membawa pandangan lebih kepada antroposentrisme atau memusatkan pada potensi manusia dalam menghadapi segala masalah di dunia daripada sekedar bergantung kepada doktrin lembaga keagamaan gereja. hal ini salah satu ragam pemikiran yang turut mewarnai abad 17-18 sampai menjelang kemunculan kelas borjuasi dibarengi dengan kekuatan modalnya yang turut meronrong kekuasaan absolut kerajaan feodal.
Proses tersebutlah yang turut memantik lahirnya modernitas kelak. Salah satu tonggak penting adalah Modernitas hadir dengan diawali dengan percik pemikiran mencapai klimaksnya dengan kemunculan paradigma industri sebagai suatu gaung kemajuan peri kehidupan umat manusia. Diantaranya dengan kolapsnya pola akumulasi kapital model gilda sebagai warisan abad pertengahan, secara gradual digantikan sistem semisal industri domestik. Sistem ekonomi pedesaan seigniorial maupun manorial mulai runtuh seiring dengan menguatnya perkotaan sebagai basis borjuasi sekaligus industri. Sistem Seignorial yang hampir meliputi lembaga sosial, politik dan ekonomi yang menguasai kehidupan para petani di eropa sepanjang zaman pertengahan. Pedesaan sebagai bagian terbawah dari hierarki feodal turut membawa kekayaan bagi pihak raja dan kalangan bangsawan di samping sistem manorial-nya yang lebih mendekati tata administratif penguasaan tanah (land) terkait pemajakan dan yuridiksi para land lord atau tuan tanah dan kaum bangsawan. Hal ini berbeda dengan hadirnya kelas pedagang yang banyak muncul di perkotaan, merekalah yang kelak menjadi cikal bakal borjuasi yang matang dengan konsepsi yang masyhur yakni kapitalisme termasuk pula sistem ekonomi liberal dengan Laissez Faire.[1] Kota selanjutnya muncul dan lebih mewakili keberadaan kelas menengah, bisnisman hingga para pedagang. Merekalah yang selama abad 17-18 sampai 19 merupakan kelas baru yang makin berkuasa yakni kelas borjuasi. Borjuasi muncul sebagai kekuatan baru, kekuatan kelas, ekonomi, sosial, politik dan mempunyai refleksi dan pengaruh terhadap kebudayaan dan pemikiran.[2]
Dalam melihat realitas borjuasi sendiri terdapat perbedaan antara inggris dengan perancis. Perancis yang secara umum banyak mewakili aspirasi eropa daratan memiliki keterlambatan. Sedangkan di Inggris misalnya terdapat percampuran antara gentry (tuan tanah) dengan kaum pedagang terjadi lebih cepat daripada Perancis, distingsi tersebut mewakili perbedaan mental borjuasi antara Inggris dengan perancis mewakili eropa daratan pada umumnya. Inggris secara politik lebih kepada aristokrasi sedangkan perancis cenderung monarki absolut. Kaum borjuasi perancis dan eropa daratan pada umumnya cenderung pada gerakan politik dengan hasilnya yang paling megah adalah revolusi perancis 1789 lewat sumbangsihnya meruntuhkan kedigdayaan raja dan kaum bangsawan sebagai pihak penganjur feodalisme digantikan keutamaan kelas borjuasi dalam memajukan masyarakat. Sedangkan di Inggris -sebagai sebuah kasus sejarah sosial yang berbeda dengan eropa daratan-, justru kaum borjuasilah yang membawa semangat perluasan dagang maupun industri dengan revolusi industri 1870-an sebagai pencapaian klimaksnya.[3]
Perlu dipahami pula bahwa revolusi industri sejatinya merupakan titik urgen dari suatu proses yang panjang yang berawal dari kemunculan kelas pedagang, menjadi borjuasi, mencapai posisi penting dalam masyarakat feudal, meruntuhkan feodalisme sampai penciptaan masyarakat industri. Akibatnya industrialisasi sering disebut sebagai bentuk evolusi mengingat perjalanannya yang panjang semenjak abad pertengahan.[4] Di inggris sendiri terdapat periode penting dari 1830-1870 yang merubah masyarakat agrikultur menuju industri komersial. Revolusi Industri yang pertamak kali terjadi di Inggris sendiri akhirnya menyebar di berbagai negara eropa daratan sebagai suatu tahapan fundamental dan untuk selanjutnya menyebar ke seluruh dunia.[5] Secara konsepsional revolusi industri memuat enam aspek penting diantaranya capital, labor, techniques, resources, transportation, and markets.[6] Revolusi Industri sampai gebrakan industrialisasinya menjadi mainstream masyarakat modern yang maju dalam ekonomi. Era revolusi industri mencontohkan transformasi di sektor produksi oleh dukungan penemuan teknologi di tahun 1870-an semenjak kesuksesan mesin uap sampai mesin pemintal katun di Inggris. Revolusi Industri menstigmakan perombakan dalam organisasi kerja yang memang dibarengi dengan penemuan teknologi ataupun cara-cara baru yang mana makin menyeret proses revolusi pada titik didihnya.[7]
Sebelumnya kehadioran revolusi industri diawali dengan eksistensi organisasi pertukangan sebagai embrio. Organisasi pertukangan yang dimaksud dapat dibagi dalam empat tahap; Pertama, tahap pertukangan rumahan; Kedua, Penyelundupan kaum pedagang ke dalam industri rumahan; Ketiga, Timbulnya ‘factory system’; Keempat, Tahap kerajaan mesin.[8] Teknologi produksi mengalami proliferasi di seluruh eropa bergandengan dengan aneksasi pasar dan kolonisasi. Inggris pada abad 15-17 mulai meraih keuntungan semenjak perdagangan wol dari bulu domba. Saat itu wol merupakan komoditas andalan. Namun di kemudian hari, kain wol mengalami keterpurukkan akibat pengorganisasian yang kolot dan amat terikat dengan monopoli kelas penguasa di samping yang paling utama adalah akibat wol yang dinilai terlalu berat sehingga tak praktis sebagai bahan sandang. Berbagai pergantian format melinkupi relasi antara masyarakat agraris dengan pola penguasaan tanah kaum feodal. Hingga revolusi inggris atau glorious revolution antara tahun 1688-1689, yang turut menempatkan parlemen di atas raja. Saat itulah era partai whig berkuasa yang kemudian mensponsori penjelajahan -termasuk penemuan amerika- dan kelak kolonialisme yang merebut Canada, India bahkan beberapa wilayah Timur-Tengah, Afrika dan Asia. Pantaslah Inggris diakui sebagai negara kolonial dengan wilayah jajahan terbesar. Sebelum revolusi industri sendiri banyak kerajaan eropa sengaja meningkatkan perekonomiannya dengan mengembangkan industri di bawah sistem ekonomi merkantilisme.[9] Keadaan Inggris menjelang abad 18 makin meningkatkan perekonomian terutama semenjak digemarinya kain katun, mulai diketemukan peralatan-peralatan untuk memintal secara cepat, tokoh penemu mesin pemintal seperti John Kay, John Wyatt sampai Hargreaves dengan temuannya pada tahun 1765 mesin pemintal katun dengan penyempurnaan daripada penemuan sebelumnya -dimana mampu memintal puluhan benang sekaligus-. Alat temuan Hargreaves dikenal dengan nama Spinnning Jenny. Kelak dengan semakin didukungnya perdagangan oleh kaum pemodal dengan orientasi produk yang maksimal, mesin tersebut makin termekanisasi dan dikembangkan melalui pemanfaatan tenaga alam seperti air dsb. Selanjutnya negeri-negeri jajahan menjadi sasaran pemasaran produk kain katun dari inggris. Kesuksesan kain Katun pun disusul dalam tempo yang hampir bersamaan oleh besi, lewat terobosan peleburan besi hingga meningkatkan kemampuan memenuhi kebutuhan peralatan yang memerlukan bahan besi, misalnya senjata, peluru meriam sampai mesin mesin. Baru pada tahun 1856 di Jerman, seorang tokoh bernama Bessemer berhasil menciptakan proses pembuatan baja; disusul oleh Siemens pada tahun 1867. Untuk Inggris baru pada tahun 1878 Gilschrist serta Thomas berhasil melakukannya. Hal ini sejalan dengan kesuksesan Mesin Uap oleh tokoh semisal Newcomen di tahun 1712 dan yang paling masyhur James Watt di tahun 1780. Menariknya menurut Van der Meulen, sebenarnya terdapat tokoh yang lebih mempengaruhi mesin uap modern memodifikasi mesin uap di masa modern yakni Hornblower, namun sayang namanya kalah terkenal dengan James Watt.[10] Masih sejalan dengan itu, terjadi perubahan dalam proses penambangan batubara, apalagi semenjak ditemukannya lokomotif semisal Rocket yang ditemukan George Stephenson pada tahun 1829. Kereta Api semakin disempurnakan dan berbagai perkapalan dimodifikasi dengan tenaga uap, semakin meningkatkan kemajuan transportasi dan pengangkutan. Terbukti di tahun 1865 penghasilan penambangan batubara telah mencapai 100 juta ton. Suksesnya pembuatan jalan kereta api pertama dibangun untuk umum adalah jalur dari Stockton ke Darlington dan dari Machester ke Liverpool. Peningkatan jalur kereta api sampai tahun 1860 turut membawa banyak perubahan. Sebagai perbandingan mnisalnya terkait perbedaan percepatan pembangunan adalah pada tahun 1848, perancis baru mengelola 16900 km rel kereta api, sedangkan Inggris telah mencapai 6450 km. Adapun jalur pelayaran dengan dibukanya Terusan Suez turut mempermudah perdagangan dan pemasaran barang maupun kolonialisme.

Dari persoalan Buruh sampailah pada Proyek kolonialisme…
 Akibat penemuan teknologis, sebagaimana disinggung sebelumnya, posisi kelas pekerja semakin didesak. Hal ini menyebabkan kerugian bagi pihak buruh atau kaum yang terlanjur terikat kehidupannya oleh industry-industri yang dikuasai para pemodal atau borjuasi maupun mantan bangsawan yang mengembangkan usaha. Kehadiran kelas pekerja atau buruh yang semakin massif seketika kepemilikan alat produksi jatuh pada kapitalis, termasuk mantan bangsawan yang bergabung dengan borjuasi. Konsep ‘keterasingan’ atau alienasi kelas pekerja akan barang produksi maupun ‘pekerjaan upahan yang mengasingkan’ sehingga bekerja hanya demi upah ala marxis menjadi salah satu bukti subordinasi kapitalis terhadap buruh industri.[11] Ironisnya, para buruh juga mengalami deskilling akibat ketergantungan terhadap teknologi, sehingga buruh yang sejatinya sebagai seorang artisan[12] dalam arti pekerja yang menguasai pembuatan barang secara keseluruhan dari awal sampai akhir karena keahliannya, menjadi terbatas dan memiliki ketergantungan kepada teknologi. Disusul hasrat mass production sebagai kredo industri modern turut mengkalkulasi dan mengatur seluruh kehidupan buruh untuk dimaksimalkan dalam kinerja produksi semisal konsep taylorisme. Perihal tersebut sangat menentukan standar hidup di masa revolusi industry,[13] maupun masa industrialisasi besar-besaran dgandeng kolonialisme dan imperialism di abad 19-20.
Di tahun 1816, disusul 1822 dan 1830, terjadi perusakkan mesin tebah yang digunakan untuk memproduksi roti, hal mana terjadi ketika krisis harga roti naik. Di lain pihak juga terdapat perusakan mesin oleh kaum Luddit di tahun 1811-1812 sampai kepada pemogokan dan demonstrasi besar-besaran di tahun 1816, 1818, 1819 yang dikenal sebagai Peterloo Massacre di Manchester yang notabene sebagai kota pusat industri yang tentunya pusat buruh pula. Salah satu gerakan yang paling penting saat itu adalah Chartist Movement (1837-1848) yang disebabkan kekecewaan kaum buruh terhadap hasil Reform Bill di tahun 1832 maupunh Poor Law Act di tahun 1834. Kondisi buruh pada abad 19 sendiri semenjak hadirnya industri industri besar di perkotaan amatlah menyengsarakan. Perancis sendiri pada awal abad 19 rakyatnya terdiri dari petani, jadi kondisi pedesaan sendiri masih menyerupai perncis kuno, mereka tetap mengurus lahan di samping menjual sebagaian hasilnya ke pasar ataupun membayar para pekerja lahan harian meskipun terjadi berbagai perubahan pola kepemilikan tanah semanjak masa revolusi. Hal ini berbeda dengan realitas perkotaan perancis. Rakyat di perkotaan berkisar antara pertokoan dan kerajinan yang mendekati pada petite borgeous atau borjuasi kecil. Di ambang tahun 1848, sektor buruh pada industry besar baru berjumlah seperempat bagian dari jumlah pekerja kasar. Kondisi umum dari kelas buruh bisa dilihat dari buruh perusahaan kecil seperti bangunan yang mana saat itu merupakan industry terbesar di Paris; Mereka pada umunya bernasib amat mengenaskan, buruh Lelaki dan wanita bahkan anak-anak bekerja di rumah seorang saudagar dengan pengaturan gaji, perumahan dan jam kerja yang sangat menindas. Intinya kelas buruh sekalipun mengalami berbagai perbedaan kondisi.[14] Menjelang tahun 1900 sendiri di daerah Lyon misalnya diketemukan baik pengrajin tradisional (tukang sarung tangan dan buruh tenun), pekerjaaan dalam sektor industri modern (pekerja tambang dan metalurgi), maupun pekerjaan sektor tersier yang berkaitan dengan industri (buruh kereta api, pelayan toko dsb); hal ini menyimpulkan kerumitan dan keberagaman dalam realitas buruh perkotaan. Menariknya di tahun 1900-an taraf hidup buruh setidaknya mengalami perbaikan misalnya makan lebih baik termasuk dalam hal mengkonsumsi daging lebih tinggi daripada tahun 1850, sayangnya hal ini tidak dibarengi dengan adanya pengawasan terhadap kesehatan, jaminan keselamatan dalam bekerja. Jam kerja dan pekerjaan yang tidak tetap menyebabkan kondisi buruh berada dalam ketidak pasatian yang ekstrem. Kelak terdapat beberapa undang-undang yang mulai dari Poor Law Act 1834, UU keselamatan kerja tahun 1898, UU Waldeck-Rousseau tahun 1884 yang memungkinkan dibentuknya sarikat buruh sampai UU tentang pemensiunan buruh dan petani tahun 1910.[15] Syukurlah berkat adanya sarikat buruh, nasib para pekerja mulai turut diperjuangkan. Setelah revolusi industri kondisi kaum pekerja atau proletariat dalam industri -menjelang masa industrialisasi dengan bercokolnya pabrik pabrik-, termasuk buruh di sektor industri pertanian semakin dipertaruhkan nasibnya. Kemauan kaum pemodal dan kelas menengah penguasa pasar membuat keterpurukan kaum pekerja melalui mekanisasi kehidupan mereka agar sejalan dengan keperluan pabrik. Umumnya mereka yang memiliki modal beserta kelas menengah dan kaum borjuis serta industrialis menganggap bahwa kaum pekerja dan buruh harus meningkatkan kemakmurannya sendiri, dan bukanlah menjadi tanggung jawab para pemodal tersebut. Kaum buruh yang telah mengenal serikat pekerja, misalnya yang bergabung dalam Trade Unions mulai memperjuangkan perbaikan keadaan kerja dan upah terhadap kaum pemodal. Sayangnya pemerintah sendiri sering terlalu berpihak kepada kaum industrialis dan pemodal daripada kaum buruh pada umumnya. Lalu bagaimana dengan nasib buruh di tanah jajahan?
Kedatangan bangsa barat di wilayah asia dan afrika mengawali tonggak kolonialisme. Bermula dari kebutuhan akan sumber daya alam sampai berlanjut pAada kepentingan pemasaran hasil produksi ketika industri-industri telah sukses memproduksi massal segala macam produk. Kesuksesan tahapan industrialisasi di eropa semenjak pertengahan abad 19 sampai awal abad 20 rupanya tak serta merta hanya berpengaruh pada wilayah eropa, namun justru dampak yang tak kalah besar adalah di negeri koloni atau jajahan. Kolonialisme dengan semangat politis imperialisme sebenarnya diboncengi kepentingan kaum industrialis alias siapa lagi kalau bukan anak cucu borjuasi. Lihat bagaimana Inggris dengan negara jajahannya India terkait pemasaran produk kain katun maupun daerah jajahan lainnya. Belanda yang sempat menahan industrialisasi di Hindia Belanda demi kepentingan yang tak jauh berbeda. Industrialisasi diimpor begitu saja melalui skema pasar dengan bantuan kolonialisme.
Di sisi lain industrialisasi memupuk ketergantungan negara konsumen terhadap negara produsen sebagaimana salah satu hakikat proyek kolonialisme sebagai lampu penerangan bagi pemasaran produk. Dalam lingkup ini, asia yang sering dipanggil the third world, termasuk asia tenggara merupakan negara-negara pasca kolonial yang notabene sebagai pihak yang merasakan dampak industrialisasi eropa dalam kedok kolonialisme. Dalam beberapa segi, apa yang didapati asia tenggara akibat industrialisasi di eropa adalah adanya proses modernisasi dalam berbagai sector kehidupan, namun tidak memungkiri adanya dependency terhadap penjajah. Salah satunya yang mencolok sampai hari ini adalah ketergantungan berbagai sektor industri semisal industri manufaktur sendiri yang sebagian besar negara-negara di asia tenggara masih bergantung pada modal asing.[16] Inti dari argumentasi tulisan ini adalah penggambaran mengenai industrialisasi eropa beserta factor kehadiran dan dampak perubahan sosial di dalmnya. Perlu diinsafi pula bahwa industrialisasi eropa sebagai gelombang awal sampai berombak besar di asia tenggara sebagai gejala yang dampaknya diversifikatif. Sayangnya dalam artikel ini, penulis tak mampu menjelaskan tentang bagaimana industrialisasi di asia tenggara, padahal terdapat corak unik dalam proses industrialisasi di negeri jajahan. Sebagaimana proses industrialisasi di Indonesia misalnya tidaklah unilineal melainkan multilineal.[17] Menyedihkan jika mengetahui dan mendengar kesimpulan opini publik tentang ekonomi kita di koran koran hari ini, bahwa sisa-sisa industrialisasi kolonial masihlah menghegemoni industri nasional. Benarkah tentang adanya industrialisasi tanpa pembangunan yang berarti? Akankah kita mampu berkembang mandiri selanjutnya, dan yang terpenting mampu belajar dari industrialisasi eropa sehingga sanggup meminimalisir impact negatifnya? Wallahua’lam.




[1] Laissez faire menurut Miriam Budiardjo merupakan suatu sistem yang berdasarkan pemikiran bahwa jika setiap orang mengejar kepentingan ekonominya secara rasional  dalam suatu sistem persaingan bebas dan ekonomi pasaran bebas, maka hal itu adalah suatu kebajikan atau baik untuk kepentingan masyarakat seluruhnya. Sehingga tidak menginginkan campur tangan pemerintah dalam mengatur dan mengendalikan ekonomi, hal ini merupakan suatu aspek dari kapitalisme. Lihat dalam MIriam Budiardjo (peny), Simposium Kapitalisme, Sosialisme, Demokrasi (Jakarta: Gramedia, 1984) hlm.97.

[2] Kuntowijoyo, Peran Borjuasi Dalam Transformasi Eropa (Yogyakarta: Ombak, 2005) hlm. 60 Kuntowijoyo sendiri juga menjelaskan akan pengaruh borjuasi selain dalam pembentukan kelas menengah dan industry, juga dalam hal mempengaruhi perkembangan pemikiran lihat hlm 157-205. Salah satunya pemikiran tentang liberalisme dan individualism, namun borjuasi sendiri sengaja mengembangkan pemikiran yang bertujuan menyelamatkan kesulitan yang dibuatnya sendiri misalnya pemikiran utilitarianism. John Stuart Mill (1806-1873) mengembangkan utilitarianisme menjadi democratic liberalism yang mengusahakan perwakialan seimbang dalam House of Commons sehingga minoritas tidak melulu menjadi obyek tiran mayoritas, lihat hlm 215. Dalam bahasa Indonesia terdapat terjemahan karangan John Stuart Mill yang berjudul on liberty. Periksa John Stuart Mill (Tertjemahan: Alex Lanur), Perihal Kebebasan (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005). Memuat pemikiran Mill tentang batas wewenang individu terkait liberalism dsb.
[3] Lihat perbedaan perbedaan lain lebih jelas dalam Kuntowijoyo, Peran Borjuasi…, hlm 61-89.

[4] Carlton J.H,.Hayes, Contemporary Europe since 1870 (New York: The Macmillan Company, 1953) hlm. 4.

[5] Eric Hosbawm, Industry and Empire (Middlesex: Penguin Books Ltd, 1974) hlm. 13. Hosbawm sendiri juga menilai bahwa revolusi industry yang kelak membawa pembangunan luar biasa dalam sejarah umat manusia. Selain itu revolusi industri tidak hanya membantu percepatan pertumbuhan ekonomi, tetapi percepatan yang diakibatkan dan melalui perombakan pola organisasi kehidupan ekonomis maupun sosial.

[6] Untuk penjelasan lebih baiknya lihat Carlton J.H. Hayes, Contemporary Europe…, hlm. 4-7.

[7] Van Der Meulen S.J., BelajardariLahirnyaIndustrialisasi di Eropa  (Yogyakarta: Kanisius,1990) hlm. 19-20.

[8] Van Der Meulen S.J, Belajar dari Lahirnya…, hlm. 20-28. Van Der Meulen menilai pada tahap awal yaitu pertukangan rumahan, manusia menggunakan semboyan do it yourself, atau buatlah sendiri. Menurutnya di desa-desa eropa dahulu terdapat pertukangan rumahan yang memenuhi kebutuhan barangnya untuk dirinya dan keluarganya sendiri, Kalaupun dijual masihlah dalam jumlah sangat terbatas. Sebagaimana dikisahkan bahwa di suatu jalur perdagangan yang dapat dikatakan ramai yaitu dari Italia menuju Eropa tengah dan sebaliknya melewati celah St. Gothart di pegunungan Alpen, dalam satu tahun kuantitas pengiriman barangnya belum sampai mengisi satu gerbong kereta modern. Padahal barang-barang yang diperdagangkan berupa barang-barang luks yang amat mahal dan amat sedikit jumlahnya. Di kota-kota memanglah terdapat hubungan majikan dan buruh, tetapi umunya tak lebih dari tiga orang buruhnya. Sedangkan sang majikan sendiri biasanya justru ikut bekerja bersama dalam suatu serikat guild.  Dalam serikat guild tersebut terdapat tingkatan Master (Guru), Geselle atau Mate (Teman), dan Apprentice (Murid), Sedangkan setiap teman atau murid mampu menjadi seorang guru kapanpun asal telah memenuhi syarat kemampuannya. Sistem ini menjadi sistem tradisional yang sempat bertahan beberapa abad sampai kemudian mulai hancur oleh campur tangan para borjuasi atau para pedagang.
Pada tahap kedua ketika para pedagang menyelundup ke dalam industri rumahan, maka perlahan Industri rumahan mulai terikat kontrak dengan pedagang. Produksi mereka biasanya sangat berkaitan dengan permintaan khusus dari pedagang, yang tak mungkin ditolak karena adanya hubungan hutang-piutang. Ketika masuk tahap ketiga, yaitu mulai ditemukan dan timbulnya sistem factory, maka industri rumahan dikembangkan oleh para pedagang menjadi lebih besar melalui suatu pengorganisasian kerja. Salah satu tujuannya adalah untuk mencapai produksi sebanyak mungkin guna meraih keuntungan sebanyak-banyaknya sebagaimana hakikat penumpukan kekayaan ala kapitalisme. Factory yang secara umum dapat diartikan sebagai industri, mecerminkan sistem industri yang memaksimalkan sistem produksi. Adapun factory system sendiri diperkirakan benar-benar mencapai perkembangan yang maksimal semenjak akhir abad 18 dengan adanya penemuan alat-alat baru yang mendukung sistem produksi, inilah puncak yang sering disebut sebagai revolusi industri. Terlebih revolusi industri makin mencapai klimaksnya dengan tahapan keempat yakni kerajaan mesin. Hal mana penemuan mesin-mesin tersebut selain mendukung sistem produksi,  juga menuntut perubahan pengorganisasian dan manajemen industri. Selain meminimalisir kinerja tenaga manusia, kaidah tersebut turut mempengaruhi pemindahan letak industri seketika alat-alat harus menggunakan tenaga air misalnya yang menuntut posisi industri dekat dengan sungai atau sumber air dsb, Hosbawm sendiri juga menilai realitas perdagangan semenjak tahun 1700 sampai 1750 turut meningkatkan ekspor inggris akan komoditas seperti wol dan kain ke sejumlah wilayah eropa dan negeri jajahan amerika, Inilah yang menurut Hosbawm merupakan bunga api yang akan memantik revolusi industri.

[9] Merkantilisme sendiri bukanlah merupakan suatu bentuk stelsel ekonomi tertentu. Hanya saja merkantilisme merupakan sistem peraturan yang praktis sebagai bentuk cita-cita ekonomi yang dijalankan terpusat oleh pemerintah terkait. Praktis di sini, dikarenakan sistem penerapannya berkaitan antara satu negara dengan negara lainnya. Kesamaan utamanya adalah di tiap-tiap negara berlomba-lomba untuk mendapatkan dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya logam mulia seperti emas. Sehingga pencapaian utamanya adalah neraca perniagaan yang positif, dan emas-lah faktor penentu kekuatan tiap-tiap negara. Adapun di tiap negara memiliki corak tersendiri yang khas, Periksa lebih lanjut dalam Soedinar Hardjosoebroto, Pengantar Sejarah Perekonomian Dunia: Akhir Abad Pertengahan sampai Perang Dunia II  (Yogyakarta: UGM, 1976) hlm. 4-6.

[10] Van Der Meulen S.J, Belajar dari lahirnya Industrialisasi…, hlm. 58.

[11] Sebelumnya perlu diakui, bahwa sebab kebodohan penulis dalam mengkaji konsep marxisme. Penulis belumlah menyempatkan diri untuk mempelajari Das Capital atau Capital, vol 1-3(1863-1867) maupun Wage , Labour and Capital (1849) dan Grundrisse (outline of a Critique of Political Economy)(1857)dan berbagai karya penting Karl Marx lainnya. Namun sebagai sebuah pemahaman dan penjelasan mengenai konsep keterasingan atau kelas pekerja atau buruh yang didasari pada realitas eropa (Perancis dan Jerman, terkait latar belakang Karl Marx) pada abad 19, penulis sengaja bertolak pada karangan dalam bahasa indonesia diantaranya Franz Magnis Suseno, Pemikiran Karl Marx dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionaisme (Jakarta: Gramedia, 2005); Ken Budha Kusumandaru, Karl Marx, Revolusi, dan Sosialisme: Sanggahan terhadap Franz Magnis Suseno (Yogyakarta: Insist Press, 2003); Pip Jones, Pengantar Teori-teori Sosial; Dari Teori Fungsionalisme hingga Post-modernisme (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2009); dan terakhir sebuah rekaman diskusi dalam sebuah konsosrsium yang diselenggarakan oleh departemen pendidikan dan kebudayaan republik indonesia di gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Jakarta. Rekaman diskusi kemudian ditulis dan diterjemahkan ke dalam sebuah buku yang amat menarik, hal mana salah satu pokok bahasannya adalah membicarakan ihwal marxisme, simak dalam Harsja W. Bachtiar (peny), Percakapan dengan Sidney Hook (Jakarta; Penerbit Djambatan, 1976).
Seperti dikemukakan Pip Jones dalam bukunya, bahwa menurut Marx, potensi bagi pencapaian individu terkait dengan aktivitas ekonomi maupun produksi dari suatu masyarakat; khususnya kesempatan untuk bebas dalam masyarakat modern hanya mungkin terjadi apabila sistem produksi berbasis kelas yang menjadi karakteristik kapitalisme dihapuskan (Lihat Pip Jones, ibid, hlm. 76). Adapun Marxisme menyoroti pada sistem produksi kapitalistik, hal mana mempertemukan pergumulan kelas antara kelas borjuasi dengan kelas proletar. Kelas borjuasi sebagai pihak yang menguasai alat produksi, sedangkan pihak proletar sebagai pihak yang terperdaya oleh penguasaan hak milik produksi para borjuasi. Selain konsep yang sering kita kenal sebagai materialisme historis dengan menganggap bahwa gerak sejarah adalah perjuangan kelas atau tentang  sejarah berbagai macam sistem produktif yang berbasis eksploitasi kelas. Nantinya apa yang dikonspsikan Karl Marx, dibantu Friedrich Engels turut menjabarkan realitas masyarakat eropa menjelang Industrialisasi, dimana makin berjangkitnya buruh-buruh pabrik, semisal bagaimana ketimpangan-ketimpangan akibat akumulasi kapital melalui pemanfaatan nilai lebih atau surplus value yang didapat dari kinerja kelas pekerja. Salah satu temuan menarik dari gagasan Marx adalah mengenai ketergantungan Kelas pekerja terhadap pihak pemodal atau borjuis, sehingga mengakibatkan apa yang disebut sebagai keterasingan atau alienasi dalam pekerjaan. Frans Magnis Suseno mengemukakan bahwa marx menilai bahwa pekerjaan adalah sarana obyektifikasi manusia atau sebagai tindakan manusia yang paling dasar, sehingga tanpa pekerjaan manusia manusia dapat dikatakan memungkiri eksistensinya, selain itu melalui pekerjaan itu pula manusia membuktikan diri sebagai makhluk sosial. Frans Magnis Suseno juga menjelaskan bahwa dalam hal keterasingan dalam pekerjaan sebagaimana digagaskan oleh Karl Marx memiliki setidaknya memiliki tiga segi, Segi pertama melalui pekerjaan yang dalam sistem kapitalistik, para buruh terasing dari produknya, hal mana hasil karya kerjanya semestinya menjadi miliknya justru dikuasai oleh pemodal, mengingat pekerja atau buruh hanya dibayar lewat upah atas keterampilannya; Segi kedua, Marx mengemukakan bahwa semakin si pekerja menghasilkan pekerjaan, dunia batinnya menjadi semakin miskin, akibatnya tindakan bekerja itu pun kehilangan arti bagi si pekerja, hal ini mematahkan hakekat bekerja secara bebas, menjadi bekerja sesuai paksaan sang pemilik perusahaan atau pemodal; sehingga pekerjaannya dilakukan bukan atas hasrat ataupun dorongan batin, namun hanya sebagai pemenuh kebutuhan akan upah, kebutuhan akan bertahan hidup dari kelaparan dsb; Segi ketiga adalah bahwa akibat melakukan pekerjaan dengan mengingkari keinginan alaminya, maka pekerja atau buruh memperalat pekerjaannya semata mata hanya demi nafkah atau upah sehingga ia memperalat dirinya sendiri (Lihat Frans Magnis Suseno, Ibid, hlm. 89-109 untuk lengkapnya).
Berlainan dari Franz Magnis Suseno, Ken Budha Kusumandaru menulis sebuah karangan sebagai sebuah sanggahan atas karangan Frans Magnis Suseno mengenai Karl Marx. Hal mana di dalamnya memuat mengenai ketidaksepahaman atas beberapa segi penjelasan, salah satunya dengan menjawab apa yang dinilai Ken Budha sebagai keraguan Frans Magnis bahwa apakah keterasingansemata mata hanya berasal atau diidentikan dengan sistem upahan? Apakah dengan menerima upah saja mengasingkan? Bukankah dengan sistem pembayaran dapat menjadi cara praktis pengorganisasian pembagian hasil kerja? (Lihat Frans Magnis Suseno, Ibid, hlm. 106). Ken Budha menilai bahwa penjelasan Frans Magnis atau Romo Magnis hanyalah berlandaskan permenungan filsafat belaka, yang dinilainya akan gagal menjelaskan termasuk menemukan sebab dari keterasingan termasuk  sistem kerja upahan yang menurut Ken sendiri memang mau tak mau harus dihapuskan terlebih dahulu, meskipun keterasingan sendiri memang tidak selalu mengambil bentuknya pada sistem kerja upahan semata (Untuk lengkapnya silahkan periksa Ken Budha Kusumandaru, Ibid, hlm. 177-199). Adapun masih banyak hal lagi perdebatan mengenai Karl Marx maupun Marxisme yang termuat dari buku Ken Budha Kususmandaru atas karangan Frans Magnis Suseno. Namun tak dapatlah dipungkiri bahwa Marxisme merupakan gagasan penting yang tak mungkin dihilangkan dalam memahami sejarah eropa, tak hanya pada realitas abad 19 namun pada abad-abad berikutnya terkait corak perkembangan pemikiran dan pengaruhnya yang semakin bervariasi dan kontroversi. Mulai dari Marxisme, sampai kepada Leninisme dan Bolshevisme, Trotskysme, Maoisme dan berbagai varian dan pengikut pengkritik yang begitu banyak, sampai berbagai aliran pemikiran di dunia yang dipengaruhi oleh marxisme, baik marxisme humanis sebagaimana diadaptasi Antonio Gramsci maupun para eksponen mazhab frankfurt; sampai marxisme strukturalis ala Louis Althusser dan masih banyak lagi. Sidney Hook menilai bahwa terdapat perubahan pandangan Karl Marx muda dengan Karl Marx Tua dalam hal memandang konsep alienasi. Pertama Marx menegaskan bahwa manusia menurut marx memiliki kelanggengan sifat pembawaan; bahwasanya manusia memiliki sifat pembawaan sejati dan ia mengalami penjauhan dari sifat pembawaan ini karena masyarakat kapitalis dan masyarakat industri. Namun di kemudian hari setelah marx menjadi katakanlah seorang marxis atau marx tua, bahwa manusia mengalami alienasi dari alamnya akibat modal dan industri bukan semata masyarakatnya, kemudian ia juga menyangkal bahwa manusia tidak mempunyai sifat pembawaan sejati, dan marx juga mengatakan bahwa sifat pembawaan manusia selalu berganti. Selain itu marx menilai bahwa penjauhan manusia merupakan sebab adanya harta pribadi. Alienasi sendiri merupakan gejala psikologi dan harta pribadi merupakan gejala ekonomi. Menariknya bahwa marx muda mengatakan bahwa harta ppribadi timbul karena sikap mental yang salah kaprah, namun kemudian saat marx tua, menentang pendapat tersebut dan menilai bahwa sikap mental tergantung pada eksistensi sosial. Kesadaran menurut marx tidak menentukan eksistensi sosial, justru sebaliknya eksistensi sosial-lah yang menentukan kesadaran (Lihat komentar Sodney Hook dalam Harsya W. Bachtiar, ibid, hlm. 127). Sidney Hook sendiri meskipun menururt saya berbicara sedikit banyak mewakili amerika, namun ia juga memberi komentar komentar sangat penting terlebih perdebatannya dengan ilmuwan indonesia sekaliber Arief Budiman, Rosihan Anwar, Usep Ranawijaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Alfian, H.M Rasjidi,  T.B Simatupang dsb. Sidney Hook sendiri menyimpulkan empat sumbanagn positif marx, yaitu; Pertama, pengakuan marx akan besarnya faktor-faktor ekonomi dalam membatasi alternatif-alternatif dalam tindakan; Kedua, Marx telah menyumbangkan apa yang kita namakan sebagai kritik sosial dan kesangsian serta pengaruh kepentigan-kepentingan kelas mengenai cita-cita; Ketiga, Marx termasuk yang perdana sadar akan pengaruh dari ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia serta akan timbulnya siatu masyarakat industri; Terakhir dan menurut Sidney Hook yang terpenting adalah pendekatan historis terhadap semua dalil yang ia ajukan. Lihat selangkapnya dalam Harsya W. Bachtiar, Ibid, hlm. 131-132). Inilah yang menurut saya marx pantas pula dijajarkan setidaknya sebagai filusuf sejarah. Sejatinya pasca reformasi, makin marak karangan tentang marxisme, yang mestinya lebih luas dari beberapa sumber terjemahan di atas. Salah satunya karya Das Capital sendiri telah diterjemahkan oleh Oey Hay Djoen, sayangnya saya belum sempat membaca dan mendaptakan versi bukunya. Sedangkan versi pdf, dan beberapa karya terkait marxisme bisa dibaca dan diunduh di http://www.marxists.org/indonesia/index.htm

[12] Untuk pembahasan tentang artisan misalnya dapat anda pelajari dalam Edward Palmer Thompson, The Making of The English working Class (Middlesex: Penguin Books Ltd, 1974),  dengan sub bab Artisan and Others, hlm. 259-296.

[13] Untuk pembahasan mengenai standar hidup di masa revolusi industry bisa dibaca dalam tewma mendalam, misalnya kumpulan tulisan yang disunting Arthur J. Taylor yang berjudul The Standard Living in Britain in the Industrial  Revolution (London: Methuen & Co Ltd, 1975). Terdapat pula tulisan sejarah lebih mendetail dan sangat menarik memperlihatkan pembentukan kelas pekerja dengan perpektif sosiologis bahkan cenderung pada apa yang disebut sebagai People’s history melalui pendekatannya yang marxis dengan penyorotan pada pemebentukan kelas pekerja di Inggris, Baca Edward Palmer Thompson, Ibid. Dalam kesempatan menulis makalah pendek ini, penulis mohon maaf belum menyempatkan diri mempelajari karangan tersebut yang semestinya amat penting menggambarkan realitas industrialisasi terkait standar kehidupan termasuk para buruh pada khususnya.
[14]  Bisa dibaca laporan Adolphe Blanqui mengenai kondisi kelas-kelas buruh di tahun 1848 di Perancis. Lihat cuplikannya dalam Jean Carpentier dan Francois Lebrun et.al, Sejarah Perancis: Dari Zaman Prasejarah Hingga Akhir Abad Ke-20  (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2011) hlm. 302.
[15] Jean Carpentier dan Francois Lebrun et.al, ibid, hlm. 332.

[16]  Yoshiara Kunio, Kapitalisme Semu Asia Tenggara (Jakarta: LP3ES, 1990) hlm. 46.

[17] Kuntowijoyo, Industrialisasi dan Dampak Sosialnya, (dlm), Prisma, No 11/12, 1983, hlm. 64. Unilineal yang dimaksud Kuntowijoyo adalah tidak berarti bahwa transformasi Industrialisasi melulu dari masyarakat agraris ke masyartakat indusatri maupun dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern, melainkan suatu evolusi yang multilineal. Menurut Kuntowijoyo, Industrialisasi tidak dapat dilepaskan begitu saja dari moderenisasi, karena industrialisasi bagian dari peradaban modern.. Namun kedua hal tersebut bisa pula berjalan bersamaan ataupun tidak sama sekali, atau bahkan moderenisai-pun bisa terjadi tanpa adanya industrialisasi, Misalnya suatu desa dengan hadirnya sambungan telepon dan internet mengalami kemajuan atau moderenisasi, Tanpa perlu menunggu munculnya industrialisasi. Lain lagi di tanah jajahan, misalnya dengan dihadirkannya industrialisasi besar-besaran baik sektor agraris maupun formal. Namun sebagian besar masyarakatnya masih dalam cara hidup tradisional, hal ini menimbulkan apa yang disebut sebagai dualisme.
Kuntowijoyo juga menilai bahwa masyarakat industri hanya akan terwujud apabila terdapat proses produksi secara mekanis dalam pabrik-pabrik ataupun perusahaan. Sedangkan masyarakat industri sendiri seolah memiliki moralitas baru yang cenderung menekankan pada rasionalisme ekonomi, pencapaian perorangan dan egaliterisme atau persamaan. Sedangkan gejala-gejala penbting dalam masyarakat Industri sendiri bisa berkisar dari; Memanjangnya usia rata-rata; Kenaikan terus menerus dalam output nasional; Obsesi terhadap produksi dan ekspansi; Penciptaan lingkungan buatan bagi manusia; Tenaga kerja dan Organisasi yang serba besar; Spesialisasi dan Rasionalisasi intelektual dan sosial (dikutip Kuntowijoyo dari Raymond Aron, The Industrial Society: Three Essays on Ideology and Development (New York: Fredrcik A. Prager, Publishers, 1967) hlm. 69.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar